Tag: angkatan bersenjata

  • Israel Kocar, Pejuang Palestina Serang Pasukan Elit IDF

    Israel Kocar, Pejuang Palestina Serang Pasukan Elit IDF

    Serangan Hamas di Khan Yunis Mengguncang Pasukan Israel

    Serangan mendadak yang dilakukan oleh belasan pejuang Palestina terhadap pasukan elite Israel di kawasan Khan Yunis, Jalur Gaza, mengejutkan militer Israel. Sebelumnya, para perwira senior menganggap bahwa sayap militer Hamas tidak lagi mampu beroperasi secara efektif di wilayah yang direbut. Namun, fakta menunjukkan bahwa pejuang Hamas berhasil memanfaatkan celah-celah kelemahan dalam pertahanan pasukan elit IDF.

    Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan operasi multi-tahap terhadap posisi militer Israel yang baru didirikan di Khan Yunis, Gaza selatan. Mereka menyatakan bahwa unit infanteri mereka berhasil menyerang posisi militer baru Israel di tenggara Khan Yunis. Para pejabat militer Israel mengakui kecanggihan serangan tersebut dan menyatakan bahwa di balik sekitar 20 pejuang yang terlibat dalam pertempuran, terdapat pasukan cadangan yang memberikan pengawasan dan intelijen di daerah tersebut. Selain itu, ada pos komando yang beroperasi di dekat lokasi serangan.

    Kecanggihan Serangan dan Strategi Hamas

    Menurut sumber yang hadir di lokasi kejadian, para penyerang dilengkapi dengan perlengkapan tempur yang menyerupai kualitas serangan pada 7 Oktober. Mereka tidak seharusnya bisa menembus struktur tempat tentara berada. Ini memerlukan penyelidikan mendalam. Perwira Israel menyatakan bahwa pejuang Palestina berhasil memusatkan upaya dan membuat satu unit elite Israel kewalahan. Kedekatan terowongan tempat para teroris muncul sangat mengejutkan dan meningkatkan penilaian bahwa mereka bermaksud untuk menculik tentara.

    Insiden ini terjadi pada hari Rabu ketika agen Hamas menyerang posisi yang diawaki oleh Unit Pengintaian Haruv, bagian dari Brigade Kfir, di Khan Yunis. Para pejuang melepaskan tembakan dengan senapan mesin dan rudal antitank. Pertempuran antara pasukan IDF dan pejuang Palestina terjadi selama sekitar satu jam. Para pejabat Komando Selatan IDF memperkirakan akan ada lebih banyak serangan serupa di sektor Khan Yunis. Sumber-sumber militer memperkirakan malam itu bahwa Hamas dan faksi perlawanan Palestina lainnya di Jalur Gaza akan berusaha melancarkan serangan terhadap pos-pos IDF di zona penyangga.

    Operasi Independen dan Persiapan Serangan

    Setiap batalion faksi-faksi Palestina di Gaza saat ini beroperasi secara independen di bawah arahan komando senior sayap militer, menurut penilaian dari para perwira di Komando Selatan. Formasi ini menunggu di dalam terowongan, didukung oleh pengintai di gedung-gedung yang menyediakan makanan dan informasi bagi mereka. Baru seminggu terakhir ini, terowongan aktif yang digunakan oleh Hamas diidentifikasi dan coba dihancurkan.

    Menurut pernyataan yang dilansir Hamas, pejuang Al-Qassam menerobos lokasi di Khan Yunis tersebut dan menyerang beberapa tank penjaga Merkava 4 menggunakan berbagai alat peledak, termasuk bom Shawaz dan peluru Yassin 105. Mereka juga menargetkan rumah-rumah di mana tentara Israel dihajar dengan peluru antilapis baja, senjata kecil, dan granat. Pernyataan itu lebih lanjut mengatakan bahwa sejumlah pejuang mereka memasuki rumah-rumah dan membunuh beberapa tentara Israel dari jarak dekat. Mereka juga berhasil melukai seorang komandan tank Merkava 4 dengan tembakan penembak jitu.

    Strategi dan Dampak Serangan

    Untuk mengamankan mundurnya mereka, para pejuang Al-Qassam dilaporkan menembaki daerah sekitar operasi dengan mortir untuk menghentikan bala bantuan. Ketika pasukan penyelamat Israel tiba, seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di antara para tentara, menyebabkan lebih banyak korban jiwa. Al-Qassam membenarkan bahwa serangan itu berlangsung selama beberapa jam dan pejuang mereka mengamati helikopter Israel mengevakuasi korban luka.

    Radio Tentara Israel menggambarkan peristiwa tersebut sebagai “insiden luar biasa,” melaporkan bahwa kelompok bersenjata besar berusaha menyerbu posisi militer depan Brigade Kfir di Khan Yunis. Menurut stasiun radio tersebut, pesawat tempur yang dipersenjatai dengan senapan mesin dan RPG maju ke lokasi tersebut.

    Tentara Israel membenarkan bahwa satu tentara dari Batalyon 90 Brigade Kfir terluka parah dalam pertempuran tersebut. Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, menyatakan bahwa tiga tentara terluka dalam serangan itu, satu serius. Radio tentara Israel juga mencatat bahwa pesawat-pesawat tempur melakukan intervensi untuk menghalau serangan tersebut dan mengklaim telah membunuh delapan militan, sementara yang lain mundur. Militer Israel memperkirakan sel bersenjata tersebut bermaksud menyusup ke posisi militer dan menangkap tentara.

  • Menteri Pertahanan Iran Umumkan Rudal Baru untuk Perang Mendatang Lawan Israel

    Menteri Pertahanan Iran Umumkan Rudal Baru untuk Perang Mendatang Lawan Israel

    Pengembangan Rudal Baru Iran dan Persiapan Militer untuk Konflik Berikutnya

    Menteri Pertahanan Iran, Brigadier General Aziz Nasirzadeh, mengungkapkan bahwa negaranya telah berhasil mengembangkan rudal generasi baru yang memiliki kemampuan jauh lebih baik dibandingkan rudal-rudal yang digunakan selama perang 12 hari melawan Israel. Menurutnya, rudal-rudal ini siap digunakan jika terjadi konflik kembali.

    Nasirzadeh menyatakan bahwa rudal yang digunakan dalam perang sebelumnya adalah produk dari beberapa tahun lalu. Namun, kini Iran memiliki teknologi yang jauh lebih canggih. “Jika musuh Zionis melancarkan serangan lagi, kami pasti akan menggunakan rudal-rudal ini,” katanya kepada media di Teheran.

    Selain menghadapi Israel, militer Iran juga berhadapan dengan dukungan logistik dan intelijen dari Amerika Serikat. Nasirzadeh menekankan bahwa Iran bergantung sepenuhnya pada sistem persenjataan yang diproduksi sendiri. “Dunia melihat bahwa rudal-rudal kami mampu menghantam target dan memberikan dampak besar pada musuh Zionis,” ujarnya.

    Media Israel diketahui melakukan penyensoran terhadap video-video serangan rudal Iran. Namun, informasi tentang kekuatan Angkatan Bersenjata Iran secara bertahap mulai muncul. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran semakin percaya diri dalam kemampuan militer mereka.

    Kekuatan Rudal Iran dan Kegagalan Sistem Pertahanan Israel

    Serangan rudal Iran pada bulan Juni 2025 menghancurkan bangunan-bangunan di Beersheba, Israel. Empat warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Tentara Israel dan tim penyelamat mencari korban di tengah reruntuhan.

    Menurut Nasirzadeh, sistem pertahanan Israel seperti THAAD dan Patriot tidak mampu menangkal rudal balistik dan hipersonik Iran. Ia menjelaskan bahwa sekitar 40 persen rudal Iran terintersep pada hari-hari pertama, namun pada akhir perang, 90 persen berhasil mencapai target. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman Iran meningkat sementara kekuatan pertahanan lawan mengalami penurunan.

    Persiapan Serangan Lanjutan oleh Israel

    Pada awal Agustus, kepala militer Israel mengatakan bahwa mereka mempersiapkan serangan lanjutan ke Iran jika diperlukan. Serangan sebelumnya pada Juni 2025 disebut sebagai perang pencegahan yang berhasil. Dalam serangan itu, Israel menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran serta membunuh komandan-komandan militer serta ratusan warga sipil.

    Selama perang 12 hari, Israel membunuh lebih dari 30 pejabat militer dan 11 ilmuwan nuklir. Menurut data resmi, 1.062 warga sipil Iran ikut terbunuh, termasuk 786 personel militer dan 276 warga sipil. Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke berbagai daerah Israel, yang menewaskan 31 warga sipil dan satu prajurit. Serangan ini juga menghancurkan objek-objek vital seperti gedung bursa, rumah sakit, dan pusat penelitian universitas.

    Perspektif Khamenei dan Persiapan Militer Iran

    Yahya Rahim Safavi, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa Iran dan Israel belum dalam gencatan senjata. Oleh karena itu, Iran sedang membangun kembali militer mereka untuk menghadapi konflik berikutnya. “Kami tidak dalam gencatan senjata, kami dalam posisi berperang,” ujar Safavi.

    Ia menekankan bahwa tidak ada protokol atau perjanjian antara Iran, AS, atau Israel. Safavi memprediksi bahwa perang akan terjadi lagi, dan setelahnya, mungkin tidak akan ada lagi perang. Ia menekankan pentingnya memperkuat diplomasi, media, rudal, drone, dan strategi serangan siber.

    Kesalahan Perhitungan Israel dan Kemenangan Iran

    Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Fadavi, mengatakan bahwa Israel melakukan miskalkulasi saat perang 12 hari melawan Iran. “Zionis musuh dan Amerika Serikat masuk dalam peperangan dengan kekuatan penuh, namun menderita salah perhitungan dengan mengira mereka akan sukses padahal tidak,” kata Fadavi.

    Fadavi menambahkan bahwa rudal Iran yang melewati Irak dan menghantam titik kritis di Israel menunjukkan kemenangan Iran. Ia juga menyatakan bahwa permusuhan dari kekuatan global, khususnya AS dan sekutunya, terhadap Republik Islam Iran terus berlangsung sejak 1979.

  • Mengapa Perang Israel dan Houthi di Yaman Meledak Kembali?

    Mengapa Perang Israel dan Houthi di Yaman Meledak Kembali?

    Serangan Israel ke Sanaa: Peran Iran, Gaza, dan Jalur Laut Merah

    Pada hari Minggu (24/8), pesawat tempur Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap ibu kota Yaman, Sanaa. Menurut militer Israel (IDF), sejumlah target militer dihancurkan, termasuk kompleks yang mencakup istana presiden, dua pembangkit listrik, dan depot bahan bakar. Israel menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh kelompok Houthi untuk operasi militer, seperti memasok listrik ke pusat komando atau menyediakan bahan bakar bagi drone.

    Otoritas Houthi melaporkan sedikitnya enam orang tewas dan hampir 90 orang luka, termasuk banyak warga sipil. Gambar dan video dari Sanaa menunjukkan tangki bahan bakar yang terbakar dan rumah-rumah penduduk yang rusak. Meskipun bukan serangan pertama yang dilakukan Israel terhadap Houthi, serangan ini dianggap sebagai yang paling berat sejak konflik baru ini muncul.

    Mengapa Israel Bereaksi Sekarang?

    Pemicu serangan terjadi dua hari sebelumnya. Pada 22 Agustus, Houthi menembakkan rudal ke arah Israel yang, menurut IDF, dilengkapi dengan submunisi — kepala peledak berisi bom-bom kecil. Senjata ini dilarang secara internasional karena berpotensi menimbulkan korban sipil.

    Bagi Israel, penggunaan bom curah dianggap sebagai eskalasi kualitatif. Dengan serangan balik ini, pemerintah Israel ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertahan secara defensif, tetapi juga akan lebih agresif menyerang sumber ancaman di Yaman.

    Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas serangan rudal dan drone dari Yaman memang meningkat. Menurut analis independen asal Yaman, Hannah Porter, ini menandai fase baru dalam konflik. “Yang baru adalah Houthi tampaknya mulai memasang submunisi dalam rudal mereka. Bahkan jika rudal berhasil ditembak jatuh, pecahan atau bagian berisi bom kecil tetap bisa jatuh di Israel dan meledak saat menghantam tanah,” kata Porter dalam wawancara dengan DW. “Tujuannya jelas: menimbulkan dampak lebih besar, bahkan di sekitar Bandara Ben Gurion di Tel Aviv.”

    Sejak Kapan Houthi Menyerang Israel?

    Konfrontasi ini berawal pada musim gugur 2023. Saat itu, tak lama setelah serangan teror Hamas pada 7 Oktober, Houthi menyatakan melakukan “serangan solidaritas” terhadap Israel. Pada 19 Oktober, Angkatan Laut AS menembak jatuh rudal Houthi di atas Laut Merah yang diduga mengarah ke Israel. Pada 31 Oktober, Houthi secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menembakkan drone dan rudal ke arah Eilat.

    Sejak itu, serangan terus berulang, beberapa kali memicu sirene peringatan di Israel. Salah satu yang paling mencolok terjadi pada 19 Juli 2024, ketika sebuah drone Houthi menghantam pusat Tel Aviv dan menewaskan seorang warga sipil. Israel membalas dengan serangan udara ke target-target Houthi di Hodeida, kota pelabuhan di Laut Merah bagian barat Yaman yang sebelumnya juga kerap diserang oleh Saudi.

    Menurut Porter, serangan Houthi memiliki logika strategis. “Sejak 7 Oktober 2023, Houthi menyerang Israel secara konsisten. Ada jeda dan fluktuasi frekuensi, tapi mereka berulang kali menegaskan: tidak peduli berapa banyak serangan udara yang mereka terima, baik dari Israel maupun AS, mereka akan melanjutkan kampanye ini.”

    Kepentingan Houthi

    Houthi, yang menyebut diri sebagai Ansar Allah, sejak 2014 menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman. Mereka berperang melawan pemerintah yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Karena terisolasi secara internasional, Houthi sangat bergantung pada aliansi dengan Iran.

    Menurut temuan PBB, Teheran selama bertahun-tahun memasok senjata, teknologi rudal dan drone, serta dukungan pelatihan militer. Bagi Iran, Houthi adalah alat penting untuk menekan Arab Saudi, AS, maupun Israel.

    Sementara bagi Houthi, perang di Gaza menjadi panggung untuk menampilkan diri sebagai bagian dari “poros perlawanan”. Mereka mengemas serangan terhadap Israel sebagai bentuk solidaritas muslim dengan Palestina, yang sekaligus memperkuat dukungan internal di Yaman. Selain itu, mereka berharap aksi ini memberi sorotan internasional yang bisa menguntungkan posisi mereka dalam perundingan damai perang saudara di Yaman.

    Namun kondisi kemanusiaan di Yaman sangat mengkhawatirkan. Kelaparan, kekurangan gizi, dan malnutrisi mencapai rekor tertinggi. Lebih dari separuh penduduk, menurut PBB, bergantung pada bantuan kemanusiaan. Infrastruktur dan sistem kesehatan nyaris kolaps akibat perang berkepanjangan.

    Dampak bagi Timur Tengah

    Eskalasi ini tidak hanya menyangkut Israel dan Yaman, tetapi juga mengganggu perdagangan global. Sejak akhir 2023, Houthi secara rutin mengancam kapal dagang di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia. Banyak perusahaan pelayaran terpaksa memutar rute lewat Tanjung Harapan, Afrika Selatan, yang membuat biaya melonjak drastis.

    Untuk melindungi jalur laut, AS dan Inggris meluncurkan operasi maritim Prosperity Guardian pada Desember 2023. Sejak itu, pasukan Barat beberapa kali melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi. Serangan terbaru Israel kini menjadi bagian dari pola aksi militer internasional yang bertujuan membatasi agresi Houthi.

  • Tolak Mundur, Israel Keras Kuasai Gunung Tertinggi di Suriah

    Tolak Mundur, Israel Keras Kuasai Gunung Tertinggi di Suriah

    Pernyataan Menteri Pertahanan Israel tentang Kekuasaan di Wilayah Suriah

    Menteri Pertahanan Israel, Katz, menyatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak akan mundur dari wilayah-wilayah yang mereka duduki di Suriah. Ia menegaskan bahwa IDF akan tetap berada di Gunung Hermon, yang merupakan gunung tertinggi di Suriah, serta wilayah-wilayah lainnya yang dianggap penting untuk keamanan negara.

    Katz mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah pencegahan ancaman dari pihak Suriah. Pernyataannya ini merujuk pada peristiwa 7 Oktober, yaitu serangan Hamas terhadap Israel dua tahun lalu. Menurutnya, keberadaan IDF di kawasan tersebut adalah bentuk perlindungan terhadap Dataran Tinggi Golan dan warga Galilea.

    Serangan dan Ekspansi Wilayah IDF di Suriah

    Di tengah pernyataan tersebut, IDF terus memperluas area pendudukannya di Suriah. Pada hari Selasa, mereka melakukan serbuan ke Desa Taranja di kawasan pedesaan Quneitra utara. Satu warga sipil dikabarkan tewas dalam serbuan itu. Sehari sebelumnya, IDF juga menyerbu daerah Damaskus, menguasai Tal Bat al-Warda dan menyerbu Desa Beit Jann. Di sana, IDF menembaki warga sipil dan memicu kepanikan.

    Ekspansi IDF di Suriah dimulai setelah Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) akhir tahun lalu. Sejak saat itu, IDF terus memperluas wilayah yang mereka kuasai di Suriah selatan.

    Peran IDF dalam Konflik di Provinsi Suwayda

    Beberapa waktu lalu, IDF juga turut campur dalam bentrokan di Provinsi Suwayda antara faksi bersenjata Druze dan pasukan yang terkait dengan pemerintah Suriah. Dalam peristiwa tersebut, IDF melancarkan serangan besar terhadap pasukan Damaskus dan tempat-tempat di ibu kota Suriah. IDF berdalih bahwa aksi mereka bertujuan untuk melindungi kelompok minoritas Druze di Suriah.

    Perjanjian Keamanan Antara Israel dan Suriah

    Perundingan perdamaian antara Israel dan Suriah kembali dilakukan. Media Israel Channel 12 melaporkan bahwa kedua negara diperkirakan akan menandatangani perjanjian keamanan pada bulan September mendatang. Perjanjian ini mencakup beberapa hal penting seperti demiliterisasi Dataran Tinggi Golan, pencegahan pemulihan kembali pasukan Suriah, dan pendirian koridor kemanusiaan di Gunung Druze.

    Pentingnya Gunung Hermon bagi Israel

    Seorang eks pilot tempur F-16 Israel, Naftali Hazony, menjelaskan pentingnya Gunung Hermon bagi Israel. Menurutnya, pengambilalihan Gunung Hermon telah mengubah keseimbangan keamanan regional dan memberi Israel keunggulan atas musuh-musuhnya.

    Gunung Hermon memiliki ketinggian 2.814 meter, sehingga ibu kota Suriah, Damaskus, berjarak sekitar 40 km dari gunung tersebut. Dengan demikian, kini Damaskus berada dalam jangkauan peluru meriam Israel. Selain itu, Hermon menjadi benteng alami yang memberikan keuntungan strategis bagi Israel.

    Manfaat Strategis dari Pengambilalihan Hermon

    Hermon bukan hanya memiliki nilai taktis, tetapi juga posisi strategis yang lama menjadi titik buta bagi radar Israel. Setelah dikuasai, radar Israel dapat menjangkau area yang lebih luas, termasuk wilayah-wilayah Suriah dan Lebanon. Intelijen Israel juga bisa memanfaatkan puncaknya untuk pengintaian dan penyadapan komunikasi musuh.

    Selain itu, Hermon menjadi pelindung yang sempurna bagi pasukan khusus dan mata-mata Israel. Beberapa rute penyelundupan Hizbullah di utara Hermon telah diputus, sehingga fleksibilitas kelompok asal Lebanon itu terbatas. Ketika matahari terbit, bayangan dari Hermon akan menutupi markas Hizbullah di Lebanon selatan, mendominasi jalur utama ke benteng utara mereka di Lembah Beqaa.

    Dengan menguasai Hermon, warga Israel utara kini bisa tidur lebih nyenyak karena tahu bahwa Israel sudah menguasai gunung ini. Kini, ancaman dari musuh-musuh Israel yang bergerak ke arah Israel akan lebih mudah terdeteksi.

  • Israel Akui Kehilangan, Pejuang Hamas Menembus Pos Militer Zionis Melalui Terowongan

    Israel Akui Kehilangan, Pejuang Hamas Menembus Pos Militer Zionis Melalui Terowongan

    Kegagalan Pengawasan di Kamp Militer Israel

    Pada hari Kamis (21/8), pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui adanya kegagalan dalam antisipasi ketika kelompok Hamas berhasil menyusup ke kamp tentara di Khan Younis, Gaza Selatan. Insiden ini terjadi pada hari Rabu (20/8), saat pejuang Hamas masuk ke bangunan yang ditempati oleh tentara Israel. Meski begitu, pasukan Israel melawan dan berhasil melumpuhkan beberapa anggota Hamas.

    Berdasarkan hasil investigasi awal IDF, para pejuang Hamas muncul dari sebuah terowongan yang berjarak 40-50 meter dari pos militer. Pos tersebut dihuni oleh pasukan Brigade Infanteri Kfir dan Batalion 74 dari Brigade Lapis Baja ke-188. Meskipun terowongan tersebut sudah diketahui sebelumnya dan sebagian poros utamanya telah dihancurkan, para pejuang Hamas diduga menggali poros baru dari jalur bawah tanah yang ada untuk melancarkan serangan.

    Kelompok Hamas terbagi menjadi tiga tim. Tim pertama melakukan tembakan penekan dari gundukan tanah, tim kedua masuk ke bangunan kosong di dalam kamp, dan tim ketiga menyerang bangunan yang ditempati satu peleton tentara. Komandan peleton dan seorang prajurit sempat keluar setelah mendengar suara mencurigakan, namun langsung ditembaki. Komandan tersebut kembali masuk, membangunkan prajurit lain yang sedang tidur, lalu bersiap di posisi bertahan.

    Dua anggota Hamas berhasil menembus gedung yang ditempati tentara. Mereka melemparkan granat dan menembaki tentara Israel, sementara tentara Israel membalas. Baku tembak berlangsung sekitar lima menit. Salah satu anggota Hamas gugur di dalam gedung, sementara rekannya melarikan diri dan dilumpuhkan. Pertempuran juga berlangsung di sekitar gedung melawan kelompok Hamas lainnya.

    Menurut laporan IDF, tiga tentara Israel terluka dalam insiden ini — satu luka serius dan dua lainnya luka ringan. Kondisi tentara yang terluka parah disebut sudah membaik. Selain itu, tank Batalion 74 menembaki gedung kosong yang sempat dimasuki Hamas setelah terlihat tembakan RPG. Dua pejuang Hamas dilaporkan gugur. Tank lainnya melindas seorang militan yang bersiap menembakkan RPG, sementara beberapa lainnya tewas dalam baku tembak di sekitar lokasi.

    IDF menyebut pertempuran di dalam kamp berlangsung sekitar 10 menit sebelum para anggota Hamas mencoba melarikan diri ke terowongan. Drone dan helikopter tempur Israel juga ikut menyerang para pelaku saat melarikan diri. Menurut laporan media Israel, total delapan anggota Hamas dilaporkan gugur di dalam dan sekitar kamp. Sementara tujuh lainnya yang menembakkan mortir syahid di pinggiran area akibat serangan udara. Sekitar delapan orang berhasil kabur kembali ke terowongan.

    Tentara Israel menemukan senjata lengkap berupa senapan serbu, RPG, granat, serta alat peledak. Mereka juga menemukan tandu yang ditinggalkan di gedung kosong, diduga untuk menculik tentara yang terluka.

    Meski berhasil memukul mundur serangan, IDF menegaskan bahwa insiden ini tetap merupakan kegagalan karena Hamas bisa menyusup tanpa terdeteksi. Sebelumnya, tentara Israel sudah menyiapkan penyergapan di area itu setelah mendeteksi pergerakan mencurigakan, namun tidak efektif.

    Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, bertanggung jawab atas serangan itu. Mereka menyebut berhasil menyerang tank Israel dengan bahan peledak dan RPG, serta menembaki bangunan yang ditempati tentara Israel. Hamas juga menyebut ada aksi penembakan jarak dekat hingga serangan bom bunuh diri yang menewaskan tentara Israel.

    Insiden ini disebut sebagai salah satu upaya langka dari Hamas dengan jumlah besar yang berani menyerang pos tentara Israel secara langsung. Bulan lalu, sekitar 12 anggota Hamas juga mencoba menyerang jalur logistik IDF di Khan Younis. Serangan terbaru tersebut terjadi saat IDF tengah bersiap melakukan ofensif besar-besaran di Kota Gaza.