Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian Global
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya kolaborasi antar pihak terkait untuk menghadapi tantangan yang muncul akibat konflik global. Ia menyampaikan hal ini saat membuka diskusi daring bertema “Prospek Perdamaian Rusia-Ukraina dan Dampaknya Bagi Indonesia”, yang diadakan oleh Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (27/8).
Lestari menyoroti bahwa dampak dari konflik global harus menjadi perhatian bersama, agar segera diatasi melalui berbagai upaya yang konkret. Tujuannya adalah menciptakan perdamaian di kawasan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Diskusi tersebut dipandu oleh Luthfi Assyaukanie, Ph.D., seorang tenaga ahli Wakil Ketua MPR RI. Hadir sebagai narasumber yaitu Dandy F. Soeparan (Fungsional Madya pada Direktorat Eropa II Kementerian Luar Negeri RI), Prof. Evi Fitriani, Ph.D. (Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia), serta Dr. Hendra Manurung (Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan Republik Indonesia). Selain itu, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D. (Pengamat Hubungan Internasional) juga turut hadir sebagai penanggap.
Dampak Konflik Ukraina-Rusia terhadap Ekonomi Global
Menurut Lestari, konflik antara Rusia dan Ukraina memiliki dampak langsung terhadap ekonomi negara-negara sekitar dan dunia secara keseluruhan, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkret untuk mengantisipasi dampak tersebut.
Ia menegaskan bahwa menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial merupakan amanat konstitusi UUD 1945. Hal ini menjadi komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga, mengupayakan, dan menciptakan tatanan dunia yang damai.
Lestari berharap semua pihak terkait dapat berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia yang berdampak positif bagi stabilitas pembangunan dalam negeri. Tujuan utamanya adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur secara merata di tanah air.
Dinamika Perubahan Kekuasaan Global
Prof. Evi Fitriani, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, berpendapat bahwa konflik Rusia-Ukraina terjadi pada masa transisi kekuasaan global. Negara-negara seperti China, India, dan Brasil berupaya mengubah sistem kekuatan dunia yang sebelumnya bipolar menjadi unipolar.
Dalam situasi ini, Amerika Serikat berusaha mempertahankan pengaruhnya dengan menjadi penengah dalam konflik regional. Sementara itu, Rusia berupaya menegaskan kembali posisinya di dunia, terutama setelah negara-negara bekas Uni Soviet mulai mandiri dan dianggap sebagai ancaman.
Evi juga menilai gaya kepemimpinan Presiden AS Donald Trump transaksional. Upaya perundingan yang dilakukan dalam konflik Rusia-Ukraina didasari atas kepentingan AS sendiri. Pada beberapa kali perundingan, tidak terlihat adanya kesepakatan perdamaian yang nyata. Bahkan, dalam satu kesempatan, pihak Rusia mengaku tidak tahu bagaimana mengakhiri perang yang berlangsung hingga kini.
Peran Indonesia dalam Konflik Global
Dandy F. Soeparan, Fungsional Madya pada Direktorat Eropa II Kementerian Luar Negeri RI, menjelaskan bahwa eskalasi konflik Rusia-Ukraina meningkat pada Februari 2022, ketika serangan Rusia terhadap wilayah Donbas, Ukraina, yang 21% penduduknya adalah ras Rusia. Saat itu, Ukraina yang sebelumnya menjadi negara penyangga Rusia, bersikeras untuk berpisah dan bergabung dengan NATO.
Dandy menyebutkan bahwa peperangan yang panjang menunjukkan kelelahan di pihak Ukraina. Presiden AS Donald Trump mulai aktif menengahi konflik tersebut dengan mengirimkan dua utusan perdamaian. Namun, hingga saat ini, belum ada kesepakatan yang jelas.
Dandy juga menyoroti potensi sumber daya alam yang dimiliki Ukraina dan Rusia, seperti migas, pertambangan, dan fosfat sebagai bahan baku pupuk yang sangat dibutuhkan Indonesia. Di sisi lain, ratusan mahasiswa Indonesia sedang menuntut ilmu di Rusia dengan dukungan beasiswa LPDP, sehingga posisi Rusia penting dalam pengembangan SDM nasional.
Krisis Pangan dan Energi Global
Dr. Hendra Manurung, dosen Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan Republik Indonesia, menyebut bahwa konflik Rusia-Ukraina sudah terjadi sejak 2014 dan meningkat pada Februari 2022, yang memengaruhi konstelasi politik dunia. Konflik ini memicu krisis pangan dan energi global, serta krisis kemanusiaan di daerah konflik.
Hendra menekankan perlunya strategi diplomasi melalui kanal politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam upaya menciptakan perdamaian. Keberhasilan ini harus tetap mengedepankan kepentingan Indonesia.
Peran China dalam Perdamaian Rusia-Ukraina
Shofwan Al Banna Choiruzzad, pengamat hubungan internasional, berpandangan bahwa bagaimana konflik Rusia-Ukraina dapat diakhiri tergantung dari cara penanganan yang dilakukan. Menurutnya, faktor China sangat memengaruhi proses perdamaian. Amerika Serikat berpendapat bahwa jika Rusia tidak bisa dipisahkan dari China, maka sulit mewujudkan perdamaian.
Shofwan menilai Presiden AS Donald Trump lebih pragmatis dalam perundingan. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terlibat dalam perundingan memiliki kepentingan masing-masing. Ia menilai konflik ini harus segera diakhiri karena jika terus berlarut-larut, berpotensi menimbulkan instabilitas di sejumlah kawasan yang memicu hot spot baru.
Perbedaan Karakteristik Pemimpin
Saur Hutabarat, wartawan senior, berpandangan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki kesamaan sifat, yaitu dominan dan ambisius. Namun, mereka memiliki perbedaan karena latar belakang yang berbeda. Trump memiliki latar belakang pengusaha yang impulsif, sedangkan Putin berasal dari mantan KGB yang lebih kalem.
