Tag: perang

  • Israel Kocar, Pejuang Palestina Serang Pasukan Elit IDF

    Israel Kocar, Pejuang Palestina Serang Pasukan Elit IDF

    Serangan Hamas di Khan Yunis Mengguncang Pasukan Israel

    Serangan mendadak yang dilakukan oleh belasan pejuang Palestina terhadap pasukan elite Israel di kawasan Khan Yunis, Jalur Gaza, mengejutkan militer Israel. Sebelumnya, para perwira senior menganggap bahwa sayap militer Hamas tidak lagi mampu beroperasi secara efektif di wilayah yang direbut. Namun, fakta menunjukkan bahwa pejuang Hamas berhasil memanfaatkan celah-celah kelemahan dalam pertahanan pasukan elit IDF.

    Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan operasi multi-tahap terhadap posisi militer Israel yang baru didirikan di Khan Yunis, Gaza selatan. Mereka menyatakan bahwa unit infanteri mereka berhasil menyerang posisi militer baru Israel di tenggara Khan Yunis. Para pejabat militer Israel mengakui kecanggihan serangan tersebut dan menyatakan bahwa di balik sekitar 20 pejuang yang terlibat dalam pertempuran, terdapat pasukan cadangan yang memberikan pengawasan dan intelijen di daerah tersebut. Selain itu, ada pos komando yang beroperasi di dekat lokasi serangan.

    Kecanggihan Serangan dan Strategi Hamas

    Menurut sumber yang hadir di lokasi kejadian, para penyerang dilengkapi dengan perlengkapan tempur yang menyerupai kualitas serangan pada 7 Oktober. Mereka tidak seharusnya bisa menembus struktur tempat tentara berada. Ini memerlukan penyelidikan mendalam. Perwira Israel menyatakan bahwa pejuang Palestina berhasil memusatkan upaya dan membuat satu unit elite Israel kewalahan. Kedekatan terowongan tempat para teroris muncul sangat mengejutkan dan meningkatkan penilaian bahwa mereka bermaksud untuk menculik tentara.

    Insiden ini terjadi pada hari Rabu ketika agen Hamas menyerang posisi yang diawaki oleh Unit Pengintaian Haruv, bagian dari Brigade Kfir, di Khan Yunis. Para pejuang melepaskan tembakan dengan senapan mesin dan rudal antitank. Pertempuran antara pasukan IDF dan pejuang Palestina terjadi selama sekitar satu jam. Para pejabat Komando Selatan IDF memperkirakan akan ada lebih banyak serangan serupa di sektor Khan Yunis. Sumber-sumber militer memperkirakan malam itu bahwa Hamas dan faksi perlawanan Palestina lainnya di Jalur Gaza akan berusaha melancarkan serangan terhadap pos-pos IDF di zona penyangga.

    Operasi Independen dan Persiapan Serangan

    Setiap batalion faksi-faksi Palestina di Gaza saat ini beroperasi secara independen di bawah arahan komando senior sayap militer, menurut penilaian dari para perwira di Komando Selatan. Formasi ini menunggu di dalam terowongan, didukung oleh pengintai di gedung-gedung yang menyediakan makanan dan informasi bagi mereka. Baru seminggu terakhir ini, terowongan aktif yang digunakan oleh Hamas diidentifikasi dan coba dihancurkan.

    Menurut pernyataan yang dilansir Hamas, pejuang Al-Qassam menerobos lokasi di Khan Yunis tersebut dan menyerang beberapa tank penjaga Merkava 4 menggunakan berbagai alat peledak, termasuk bom Shawaz dan peluru Yassin 105. Mereka juga menargetkan rumah-rumah di mana tentara Israel dihajar dengan peluru antilapis baja, senjata kecil, dan granat. Pernyataan itu lebih lanjut mengatakan bahwa sejumlah pejuang mereka memasuki rumah-rumah dan membunuh beberapa tentara Israel dari jarak dekat. Mereka juga berhasil melukai seorang komandan tank Merkava 4 dengan tembakan penembak jitu.

    Strategi dan Dampak Serangan

    Untuk mengamankan mundurnya mereka, para pejuang Al-Qassam dilaporkan menembaki daerah sekitar operasi dengan mortir untuk menghentikan bala bantuan. Ketika pasukan penyelamat Israel tiba, seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di antara para tentara, menyebabkan lebih banyak korban jiwa. Al-Qassam membenarkan bahwa serangan itu berlangsung selama beberapa jam dan pejuang mereka mengamati helikopter Israel mengevakuasi korban luka.

    Radio Tentara Israel menggambarkan peristiwa tersebut sebagai “insiden luar biasa,” melaporkan bahwa kelompok bersenjata besar berusaha menyerbu posisi militer depan Brigade Kfir di Khan Yunis. Menurut stasiun radio tersebut, pesawat tempur yang dipersenjatai dengan senapan mesin dan RPG maju ke lokasi tersebut.

    Tentara Israel membenarkan bahwa satu tentara dari Batalyon 90 Brigade Kfir terluka parah dalam pertempuran tersebut. Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, menyatakan bahwa tiga tentara terluka dalam serangan itu, satu serius. Radio tentara Israel juga mencatat bahwa pesawat-pesawat tempur melakukan intervensi untuk menghalau serangan tersebut dan mengklaim telah membunuh delapan militan, sementara yang lain mundur. Militer Israel memperkirakan sel bersenjata tersebut bermaksud menyusup ke posisi militer dan menangkap tentara.

  • Pasukan Pendudukan Mulai Mengusir Warga Gaza

    Pasukan Pendudukan Mulai Mengusir Warga Gaza

    Israel Memperluas Serangan Militer di Jalur Gaza, Pengungsian Paksa Ditetapkan

    Pihak militer Israel telah mengumumkan rencana pengungsian paksa warga Palestina dari “zona tempur” ke wilayah selatan Gaza. Rencana ini mulai berlaku pada hari Ahad, setelah militer secara resmi memulai serangan baru untuk menguasai Kota Gaza, yang merupakan pusat kota terbesar di wilayah tersebut.

    Dalam kunjungannya ke Jalur Gaza pada hari Ahad, Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF), Eyal Zamir, menyatakan bahwa militer menyetujui “rencana perang tahap selanjutnya”. Pernyataan ini muncul setelah kabinet keamanan melakukan pemungutan suara awal bulan ini untuk menyetujui serangan militer di wilayah utara Jalur Gaza.

    Rencana tersebut, yang didasarkan pada garis besar umum yang disetujui oleh Zamir minggu lalu, dibahas dalam rapat Komando Selatan pada malam Sabtu. “Hari ini kami menyetujui rencana perang tahap selanjutnya,” ujar Zamir dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa fokus serangan akan tertuju pada Kota Gaza. Namun, rencana ini mendapat penolakan dari komunitas internasional, dengan dikhawatirkan ratusan ribu warga Gaza akan terancam keselamatan hidupnya jika serangan dilakukan.

    Juru bicara militer berbahasa Arab, Avichay Adraee, mengatakan bahwa warga akan diberikan tenda dan peralatan perlindungan lainnya yang diangkut melalui Karem Abu Salem atau Kerem Shalom, jalur yang biasanya digunakan oleh PBB dan organisasi bantuan internasional. PBB belum memberikan respons terhadap rencana tersebut atau peran mereka dalam bantuan kemanusiaan.

    Perdana Menteri Israel Netanyahu sebelumnya mengumumkan bahwa militer diberi lampu hijau untuk “membongkar” dua benteng Hamas yang tersisa: Kota Gaza di utara dan al-Mawasi di selatan. Meskipun demikian, tentara Israel belum merinci apakah peralatan penampungan itu ditujukan bagi penduduk Kota Gaza, yang jumlahnya diperkirakan mencapai satu juta orang, serta lokasi di mana mereka akan direlokasi di Gaza selatan, seperti kawasan Rafah dekat perbatasan Mesir.

    PBB tidak langsung merespons pengumuman Israel, namun mereka memperingatkan bahwa ribuan keluarga yang kondisi kemanusiaannya memprihatinkan bisa terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka jika rencana serangan tetap dilaksanakan.

    Serangan Militer Berdampak pada Warga Sipil

    Kelompok Jihad Islam Palestina, sekutu Hamas, menggambarkan pengumuman militer sebagai “bagian dari serangan brutal untuk menduduki Kota Gaza” dan “penghinaan terhadap konvensi internasional.” Mereka menuding bahwa memaksa warga mengungsi di tengah kelaparan, pembantaian, dan pengungsian merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Perilaku kriminal di Gaza, menurut kelompok tersebut, tidak dapat dipisahkan dari kejahatan yang terjadi di Tepi Barat yang diduduki.

    Pasukan Israel telah meningkatkan operasi di pinggiran Kota Gaza selama seminggu terakhir. Penduduk di lingkungan Zeitoun dan Shujaiya melaporkan tembakan besar-besaran dari udara dan tank. Sebuah pesawat tak berawak Israel menargetkan sekelompok orang di daerah Asqaula, menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya. Di Jalan az-Zarqa, sebuah rumah dekat Masjid al-Alami juga dihantam, menyebabkan satu orang syahid dan tiga lainnya luka-luka.

    Perkemahan tenda di al-Mawasi, zona “kemanusiaan” yang ditetapkan pada awal perang, juga diserang. Serangan udara Israel menewaskan Motasem al-Batta, istrinya, dan bayi perempuan mereka di dalam tenda. Tetangga keluarga tersebut, Fathi Shubeir, mengatakan kepada The Associated Press bahwa warga sipil yang mengungsi tinggal di daerah padat penduduk al-Mawasi. Ia menyampaikan rasa prihatin terhadap nasib bayi perempuan tersebut, dengan berkata, “Dua setengah bulan, apa yang telah dia lakukan?”

    Kondisi Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan

    Agresi Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 61.827 orang sejak Oktober 2023. Malnutrisi juga telah menewaskan 251 orang sejauh ini, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Dalam 24 jam terakhir, 11 orang, termasuk seorang anak, meninggal karena kelaparan.

    Di Rumah Sakit al-Shifa Kota Gaza, lebih dari 200 pasien berada dalam kondisi kritis akibat kekurangan obat-obatan dan gizi. Direktur rumah sakit, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan bahwa fasilitas tersebut penuh sesak dengan pasien yang terluka dan banyak dokter harus melakukan amputasi karena tidak mampu mengatasi infeksi pada luka.

    Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari 14.800 pasien membutuhkan perawatan medis darurat yang tidak tersedia di Gaza. Namun, bahkan meninggalkan Jalur Gaza tidak selalu cukup untuk menyelamatkan nyawa. Marah Abu Zuhri, seorang warga Palestina berusia 20 tahun, tiba di Pisa dengan penerbangan kemanusiaan Italia dalam kondisi sangat kurus. Rumah Sakit Universitas Pisa menggambarkan kondisinya sebagai “sangat kompleks” dan “serius”, sebelum ia meninggal pada hari Jumat.

    Kelaparan dan Kekurangan Gizi Menyebar

    Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa 40.000 bayi di wilayah tersebut menderita kekurangan gizi parah akibat krisis pangan yang terjadi. PBB telah memperingatkan bahwa tingkat kelaparan dan kekurangan gizi di Gaza mencapai titik tertinggi sejak perang dimulai.

    Keluarga dari 50 tawanan Israel yang masih ditahan di Gaza juga terguncang oleh video baru-baru ini yang menunjukkan kerabat mereka yang kurus memohon bantuan dan makanan. Sebuah kelompok yang mewakili keluarga tersebut mendesak warga Israel turun ke jalan pada hari Minggu, meminta aksi solidaritas untuk memulangkan 50 sandera.

    Netanyahu menolak kritik bahwa rencananya untuk memperluas serangan militer akan membahayakan nyawa para tawanan. Meski mobilisasi pasukan diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu, perdana menteri Israel mempertahankan keputusannya, dengan mengatakan bahwa ia “tidak punya pilihan” selain menyerang Hamas di Gaza.

  • 200 Tahun Perang Jawa: Pemberontakan Diponegoro dan Kekalahan Besar Belanda

    200 Tahun Perang Jawa: Pemberontakan Diponegoro dan Kekalahan Besar Belanda

    Sejarah Perang Jawa: Perlawanan yang Mengubah Kebijakan Kolonial

    Perang Jawa, atau dikenal juga sebagai De Java Oorlog, merupakan salah satu konflik terbesar dalam sejarah perlawanan rakyat Nusantara terhadap kolonialisme Belanda. Pada tahun 2025, genap 200 tahun peristiwa ini berlangsung, yaitu antara tahun 1825 hingga 1830. Perang ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan berlangsung selama lima tahun dengan melibatkan jutaan rakyat Jawa. Korban jiwa mencapai ratusan ribu orang.

    Perang ini tidak hanya meninggalkan dampak besar bagi masyarakat saat itu, tetapi juga menjadi titik balik dalam kebijakan kolonial. Pangeran Diponegoro menjadi simbol perlawanan bangsa yang kuat dan tak tergoyahkan.

    Latar Belakang Perang

    Pangeran Diponegoro adalah seorang bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta. Ketika Marsekal Herman Willem Daendels tiba di Batavia, pengaruh kolonial Belanda semakin kuat di Jawa, khususnya di lingkungan Keraton Yogyakarta. Daendels melakukan perubahan dalam etiket dan tata upacara kerajaan, yang menimbulkan ketegangan dengan pihak keraton. Selain itu, ia juga memaksa Kesultanan Yogyakarta untuk membuka akses sumber daya alam dan manusia dengan mengandalkan kekuatan militer.

    Kronologi Perang Jawa

    Perang Diponegoro dipicu oleh campur tangan Belanda dalam urusan internal kerajaan. Di bawah pengaruh kolonial, pihak keraton kehilangan wibawa politik dan larut dalam kehidupan mewah tanpa memedulikan rakyat. Salah satu pemicu khusus pecahnya perang adalah pembangunan jalur rel kereta api yang melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro.

    Konflik dimulai pada 20 Juli 1825, ketika istana mengirim dua bupati senior untuk menangkap Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo. Meski kediamannya dibakar, Diponegoro bersama sebagian pengikut berhasil meloloskan diri. Perlawanan ini segera mendapat dukungan luas dari masyarakat, mulai dari petani hingga kaum priyayi yang ikut menyumbangkan dana. Tokoh agama seperti Kyai Mojo juga berperan penting sebagai pemimpin spiritual pemberontakan.

    Dalam waktu tiga minggu, pasukan Diponegoro berhasil menyerang dan menduduki Keraton Yogyakarta. Gelombang perlawanan terus berlanjut hingga mencapai wilayah Madiun, Magetan, Kediri, dan sekitarnya.

    Strategi dan Eskalasi Konflik

    Dalam menjalankan perlawanan, Diponegoro menerapkan taktik gerilya. Puncak eskalasi terjadi pada 1827, ketika Belanda menurunkan sekitar 23 ribu prajurit. Untuk menekan gerakan Diponegoro, mereka memperkenalkan strategi “Bentengstelsel”, yakni membangun benteng-benteng di titik strategis Jawa Tengah dan Jawa Timur guna mempersempit ruang gerilya.

    Perlawanan perlahan melemah setelah sejumlah tokoh ditangkap: Kyai Mojo pada 1829, disusul Pangeran Mangkubumi dan Alibasah Sentot Prawirodijo. Pada 21 September tahun yang sama, Belanda bahkan mengumumkan sayembara berhadiah 50 ribu gulden bagi siapa pun yang bisa menangkap Diponegoro.

    Akhir Perang dan Penangkapan Diponegoro

    Dalam kondisi terdesak, Diponegoro akhirnya setuju untuk berunding dengan pihak Belanda. Pertemuan dengan Jenderal de Kock berlangsung beberapa kali, namun permintaan Diponegoro untuk diakui sebagai Sultan Jawa bagian selatan ditolak. Akhirnya, pada 28 Maret 1830, Jenderal de Kock berhasil menjebak pasukan Diponegoro sehingga ia menyerahkan diri. Penangkapan tersebut menandai berakhirnya Perang Diponegoro.

    Setelah itu, Diponegoro diasingkan, mulai dari Ungaran, lalu dipindahkan ke Batavia, Manado, hingga akhirnya ditempatkan di Benteng Rotterdam, Makassar, tempat ia wafat pada 8 Januari 1855.

    Dampak Bagi Pemerintah Kolonial

    Perang Diponegoro yang menelan biaya besar bagi pihak kolonial memaksa Pemerintah Hindia Belanda mencari cara untuk menutup kerugian mereka. Salah satu langkah yang ditempuh adalah merampas tanah serta memberlakukan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) kepada rakyat Nusantara.

    Kebijakan ini diterapkan sejak 1830 hingga 1870, dan justru semakin memperparah penderitaan masyarakat karena beban kerja dan hasil panen yang harus diserahkan kepada pemerintah kolonial.

    Perang ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap Belanda, dengan kerugian tidak kurang dari 20 juta gulden dan korban jiwa yang besar. Pasca perang, Belanda semakin menunjukkan dominasinya. Banyak bangsawan Jawa memilih tunduk pada kekuasaan kolonial, sehingga perlawanan terbuka berkurang. Butuh waktu beberapa dekade sebelum muncul kaum terpelajar dan intelektual yang kemudian menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya memperjuangkan kemerdekaan.

  • Mengapa Perang Israel dan Houthi di Yaman Meledak Kembali?

    Mengapa Perang Israel dan Houthi di Yaman Meledak Kembali?

    Serangan Israel ke Sanaa: Peran Iran, Gaza, dan Jalur Laut Merah

    Pada hari Minggu (24/8), pesawat tempur Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap ibu kota Yaman, Sanaa. Menurut militer Israel (IDF), sejumlah target militer dihancurkan, termasuk kompleks yang mencakup istana presiden, dua pembangkit listrik, dan depot bahan bakar. Israel menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh kelompok Houthi untuk operasi militer, seperti memasok listrik ke pusat komando atau menyediakan bahan bakar bagi drone.

    Otoritas Houthi melaporkan sedikitnya enam orang tewas dan hampir 90 orang luka, termasuk banyak warga sipil. Gambar dan video dari Sanaa menunjukkan tangki bahan bakar yang terbakar dan rumah-rumah penduduk yang rusak. Meskipun bukan serangan pertama yang dilakukan Israel terhadap Houthi, serangan ini dianggap sebagai yang paling berat sejak konflik baru ini muncul.

    Mengapa Israel Bereaksi Sekarang?

    Pemicu serangan terjadi dua hari sebelumnya. Pada 22 Agustus, Houthi menembakkan rudal ke arah Israel yang, menurut IDF, dilengkapi dengan submunisi — kepala peledak berisi bom-bom kecil. Senjata ini dilarang secara internasional karena berpotensi menimbulkan korban sipil.

    Bagi Israel, penggunaan bom curah dianggap sebagai eskalasi kualitatif. Dengan serangan balik ini, pemerintah Israel ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertahan secara defensif, tetapi juga akan lebih agresif menyerang sumber ancaman di Yaman.

    Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas serangan rudal dan drone dari Yaman memang meningkat. Menurut analis independen asal Yaman, Hannah Porter, ini menandai fase baru dalam konflik. “Yang baru adalah Houthi tampaknya mulai memasang submunisi dalam rudal mereka. Bahkan jika rudal berhasil ditembak jatuh, pecahan atau bagian berisi bom kecil tetap bisa jatuh di Israel dan meledak saat menghantam tanah,” kata Porter dalam wawancara dengan DW. “Tujuannya jelas: menimbulkan dampak lebih besar, bahkan di sekitar Bandara Ben Gurion di Tel Aviv.”

    Sejak Kapan Houthi Menyerang Israel?

    Konfrontasi ini berawal pada musim gugur 2023. Saat itu, tak lama setelah serangan teror Hamas pada 7 Oktober, Houthi menyatakan melakukan “serangan solidaritas” terhadap Israel. Pada 19 Oktober, Angkatan Laut AS menembak jatuh rudal Houthi di atas Laut Merah yang diduga mengarah ke Israel. Pada 31 Oktober, Houthi secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menembakkan drone dan rudal ke arah Eilat.

    Sejak itu, serangan terus berulang, beberapa kali memicu sirene peringatan di Israel. Salah satu yang paling mencolok terjadi pada 19 Juli 2024, ketika sebuah drone Houthi menghantam pusat Tel Aviv dan menewaskan seorang warga sipil. Israel membalas dengan serangan udara ke target-target Houthi di Hodeida, kota pelabuhan di Laut Merah bagian barat Yaman yang sebelumnya juga kerap diserang oleh Saudi.

    Menurut Porter, serangan Houthi memiliki logika strategis. “Sejak 7 Oktober 2023, Houthi menyerang Israel secara konsisten. Ada jeda dan fluktuasi frekuensi, tapi mereka berulang kali menegaskan: tidak peduli berapa banyak serangan udara yang mereka terima, baik dari Israel maupun AS, mereka akan melanjutkan kampanye ini.”

    Kepentingan Houthi

    Houthi, yang menyebut diri sebagai Ansar Allah, sejak 2014 menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman. Mereka berperang melawan pemerintah yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Karena terisolasi secara internasional, Houthi sangat bergantung pada aliansi dengan Iran.

    Menurut temuan PBB, Teheran selama bertahun-tahun memasok senjata, teknologi rudal dan drone, serta dukungan pelatihan militer. Bagi Iran, Houthi adalah alat penting untuk menekan Arab Saudi, AS, maupun Israel.

    Sementara bagi Houthi, perang di Gaza menjadi panggung untuk menampilkan diri sebagai bagian dari “poros perlawanan”. Mereka mengemas serangan terhadap Israel sebagai bentuk solidaritas muslim dengan Palestina, yang sekaligus memperkuat dukungan internal di Yaman. Selain itu, mereka berharap aksi ini memberi sorotan internasional yang bisa menguntungkan posisi mereka dalam perundingan damai perang saudara di Yaman.

    Namun kondisi kemanusiaan di Yaman sangat mengkhawatirkan. Kelaparan, kekurangan gizi, dan malnutrisi mencapai rekor tertinggi. Lebih dari separuh penduduk, menurut PBB, bergantung pada bantuan kemanusiaan. Infrastruktur dan sistem kesehatan nyaris kolaps akibat perang berkepanjangan.

    Dampak bagi Timur Tengah

    Eskalasi ini tidak hanya menyangkut Israel dan Yaman, tetapi juga mengganggu perdagangan global. Sejak akhir 2023, Houthi secara rutin mengancam kapal dagang di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia. Banyak perusahaan pelayaran terpaksa memutar rute lewat Tanjung Harapan, Afrika Selatan, yang membuat biaya melonjak drastis.

    Untuk melindungi jalur laut, AS dan Inggris meluncurkan operasi maritim Prosperity Guardian pada Desember 2023. Sejak itu, pasukan Barat beberapa kali melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi. Serangan terbaru Israel kini menjadi bagian dari pola aksi militer internasional yang bertujuan membatasi agresi Houthi.

  • Buldoser Israel Hancurkan Ratusan Pohon Zaitun Petani Palestina

    Buldoser Israel Hancurkan Ratusan Pohon Zaitun Petani Palestina

    Kekerasan di Tepi Barat: Penggusuran Pohon Zaitun dan Dampaknya pada Masyarakat Palestina

    Ketegangan yang terjadi di Tepi Barat kembali memuncak setelah militer Israel melakukan penggusuran ratusan pohon zaitun di desa al-Mughayyir, dekat Ramallah. Pohon-pohon ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat setempat, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Penggusuran tersebut dilakukan dengan alasan keamanan militer, namun banyak pihak menganggap tindakan ini sebagai bagian dari strategi untuk mengosongkan lahan pertanian.

    Dalam pernyataannya, militer Israel menyatakan bahwa penggusuran dilakukan sebagai bagian dari “aktivitas operasional intensif” setelah terjadi serangan penembakan terhadap warga Israel di wilayah tersebut. Menurut mereka, pohon-pohon zaitun yang berada di lahan pertanian warga Palestina dapat digunakan sebagai lokasi persembunyian oleh kelompok tertentu. Namun, para petani dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menilai bahwa alasan keamanan hanyalah alibi belaka.

    Pemimpin asosiasi pertanian setempat, Ghassan Abu Aliya, mengungkapkan bahwa tujuan utama dari penggusuran ini adalah untuk mengendalikan wilayah dan memaksa penduduk pergi. Ia menyebutkan bahwa tindakan ini baru permulaan dan akan meluas ke seluruh Tepi Barat.

    Zaitun sebagai Nadi Ekonomi dan Budaya

    Zaitun telah menjadi komoditas utama dan simbol identitas bagi masyarakat Tepi Barat, khususnya di daerah al-Mughayyir. Data dari lembaga pertanian Palestina menunjukkan bahwa sekitar 48 persen lahan pertanian di Tepi Barat ditanami pohon zaitun. Diperkirakan ada lebih dari 10 juta pohon zaitun yang tumbuh di wilayah tersebut, dengan kontribusi mencapai 14 persen dari perekonomian sektor pertanian Palestina.

    Setiap tahun, wilayah ini mampu memproduksi antara 20.000 hingga 25.000 ton minyak zaitun, yang sebagian besar digunakan untuk kebutuhan lokal, sementara sisanya diekspor ke pasar internasional. Produksi ini menopang kehidupan lebih dari 100.000 keluarga petani yang bergantung pada panen zaitun.

    Bagi para petani, zaitun bukan hanya komoditas, melainkan warisan turun-temurun yang melambangkan ketahanan dan keterikatan dengan tanah leluhur. Namun, konflik berkepanjangan dengan Israel membuat sektor ini rentan. Kebun-kebun zaitun sering menjadi target penggusuran atau perusakan, terutama di daerah dekat pemukiman Israel.

    Dampak Sosial dan Budaya

    Kondisi ini tidak hanya mengancam perekonomian warga, tetapi juga memutus ikatan budaya yang telah terjaga selama ratusan tahun. Hilangnya kebun zaitun berarti hilangnya sumber penghidupan, sekaligus melemahkan ikatan masyarakat dengan tanah leluhur mereka.

    Seorang petani di Ramallah menggambarkan arti penting zaitun dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan, “Pohon zaitun adalah pohon kehidupan bagi kami. Dari sini kami makan, berdagang, dan mewariskan sejarah keluarga.”

    Penangkapan Warga al-Mughayyir

    Selain penggusuran pohon zaitun, militer Israel juga menangkap seorang pria asal desa al-Mughayyir yang dituduh bertanggung jawab atas serangan teroris terhadap warga Israel. Penangkapan ini dilakukan dalam operasi keamanan yang disebut Israel sebagai “aktivitas operasional intensif” setelah terjadi penembakan serius di dekat desa.

    Meski identitas pria yang ditahan belum diungkapkan, militer Israel menegaskan bahwa ia telah ditetapkan sebagai pelaku utama serangan. Ketegangan di al-Mughayyir sendiri meningkat sejak beberapa hari sebelumnya. Pada 16 Agustus, Otoritas Palestina melaporkan seorang pemuda berusia 18 tahun tewas ditembak tentara Israel di desa tersebut.

    Militer Israel mengklaim pasukannya menanggapi lemparan batu oleh “teroris”, namun tidak secara langsung menghubungkan insiden itu dengan kematian remaja tersebut. Imbas kekerasan ini, sejak 7 Oktober 2024 setidaknya 971 warga Palestina termasuk militan dan warga sipil telah dibunuh oleh tentara atau pemukim Israel di Tepi Barat.

  • Basis Data Militer Israel Ungkap Mayoritas Korban Palestina adalah Warga Sipil

    Basis Data Militer Israel Ungkap Mayoritas Korban Palestina adalah Warga Sipil

    Data Rahasia Militer Israel Menunjukkan Mayoritas Korban di Gaza adalah Warga Sipil

    Sebuah basis data rahasia yang ditemukan oleh lembaga investigasi menunjukkan bahwa mayoritas korban tewas di Gaza adalah warga sipil. Data ini berasal dari militer Israel dan ditemukan dalam kerja sama antara The Guardian, +972 Magazine, serta media lokal berbahasa Ibrani, Local Call. Penemuan ini memberikan wawasan baru mengenai proporsi korban jiwa dalam konflik yang terjadi di wilayah tersebut.

    Dari data yang ditemukan hingga bulan Mei, tercatat sekitar 8.900 nama pejuang Palestina, termasuk dari Hamas dan PIJ, yang ditandai sebagai “meninggal” atau “kemungkinan besar meninggal”. Namun, jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina pada bulan yang sama. Mereka mencatat total hampir 53.000 korban jiwa akibat serangan Israel. Angka ini mencakup baik para pejuang maupun warga sipil, tetapi belum termasuk korban yang masih terkubur dalam reruntuhan.

    Berdasarkan perbandingan data tersebut, diperkirakan bahwa sekitar 83% dari korban tewas adalah warga sipil, sementara hanya 17% yang merupakan pejuang. Angka ini bertentangan dengan pernyataan Israel yang selama ini menyebutkan bahwa target utama serangan mereka adalah kelompok militer seperti Hamas dan PIJ. Persentase kematian warga sipil ini menjadi yang tertinggi keempat jika dibandingkan dengan angka kematian warga sipil dalam konflik kemanusiaan lainnya yang tercatat dalam Uppsala Conflict Data Program.

    Para peneliti konflik menyebutkan bahwa persentase ini bisa menjadi yang tertinggi dalam sejarah peperangan modern, karena belum ada konflik kemanusiaan terbaru yang mencapai tingkat kematian warga sipil yang setinggi ini. Hal ini memicu pertanyaan mengenai cara pengambilan keputusan dalam operasi militer Israel di Gaza.

    Respons Pihak Militer Israel

    Pihak militer Israel tidak secara langsung membantah keberadaan basis data tersebut ketika dihubungi oleh Local Call dan +972 Magazine. Namun, ketika The Guardian melakukan wawancara, mereka menyatakan akan “mengulang kembali” respons mereka. Dalam pernyataan resmi mereka, disebutkan bahwa data dalam artikel tidak benar dan angka yang disebutkan tidak merepresentasikan data yang tersedia dalam sistem IDF. Namun, pernyataan ini tidak menjawab secara spesifik tentang basis data intelijen yang dimaksud, sehingga masih menimbulkan keraguan.

    Bukan Perang, Tapi Pembunuhan yang Ditargetkan

    Direktur dari The Conflict Research Programme, Mary Kaldor, menyatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang, melainkan kampanye pembunuhan yang ditargetkan. Ia menekankan bahwa dalam konflik ini, tidak ada pertimbangan untuk melindungi warga sipil. Dalam penyerangan, tentara Israel diizinkan untuk melaporkan orang yang tewas sebagai korban militan tanpa adanya identifikasi atau verifikasi. Banyak tentara Israel sendiri mengakui bahwa semua warga Palestina kini dianggap sebagai target, tanpa membedakan apakah mereka militer atau bukan.

    Salah satu tentara yang bertugas di Rafah mengungkapkan bahwa mereka tidak menembak untuk memberi peringatan, melainkan untuk membunuh. Mereka bahkan membuat garis batas imajiner di pasir dan menembak siapa pun yang melewati garis tersebut. Hal ini memperkuat klaim bahwa operasi militer Israel di Gaza dilakukan tanpa memperhatikan keselamatan warga sipil.

    Pengakuan dari Berbagai Pihak

    Banyak peneliti genosida, aktivis HAM, akademisi, dan kelompok kampanye dari Israel menganggap apa yang terjadi di Gaza saat ini sebagai genosida. Mereka menilai bahwa serangan yang terus-menerus dilakukan oleh Israel menunjukkan niat untuk menghancurkan komunitas Palestina secara keseluruhan.

    Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina pada Juni 2025 menunjukkan bahwa jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai lebih dari 55.000 jiwa. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meluasnya serangan dari Israel.

  • Pertempuran Palembang 1942: Jepang Patahkan Kekuatan Sekutu di Kilang Minyak

    Pertempuran Palembang 1942: Jepang Patahkan Kekuatan Sekutu di Kilang Minyak

    Sejarah Pertempuran Palembang 1942

    Pertempuran Palembang pada tahun 1942 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Perang Dunia II di Asia Tenggara. Pada masa itu, tentara Jepang berhasil mengalahkan pasukan Belanda dan Sekutu, sehingga dapat menguasai kilang minyak yang ada di kota tersebut. Peristiwa ini menunjukkan kekuatan militer Jepang yang terus berkembang dan ambisi mereka untuk memperluas pengaruhnya di wilayah-wilayah kaya sumber daya.

    Awal Kehadiran Jepang di Indonesia

    Jepang pertama kali mendarat di Tarakan pada 11 Januari 1942. Mendaratnya Jepang di sana adalah awal dari ekspansi mereka ke wilayah-wilayah lain di Indonesia. Salah satu tujuan utama mereka adalah menguasai daerah-daerah yang kaya akan minyak, seperti Palembang. Menurut laporan Majalah Angkasa, Palembang menjadi basis minyak bagi Belanda, mirip dengan Tarakan dan Balikpapan. Dengan adanya embargo minyak oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda, Jepang tidak punya pilihan selain merebut kilang minyak musuh.

    Selain itu, menguasai Palembang juga memberi peluang bagi Jepang untuk lebih mudah menguasai pulau Jawa. Hal ini membuat Palembang menjadi target strategis bagi Jepang. Belanda menjadikan Palembang sebagai basis minyak bukan hanya untuk mendukung pemerintahan mereka di Hindia Belanda, tetapi juga untuk mengekspor minyak ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

    Penyerangan dan Pengambilalihan Palembang

    Jepang menyerang Palembang pada 12 Februari 1943, tepat sebulan setelah mendarat di Tarakan. Setelah empat hari pertempuran, Jepang akhirnya bisa menguasai area Plaju dan Sei Gerong. Tak lama kemudian, mereka juga berhasil menguasai bagian timur dan barat Sumatera. Jejak penguasaan Jepang masih bisa ditemukan hingga saat ini, seperti rumah-rumah warga yang dulunya digunakan sebagai barak tentara Jepang dan bangunan-bangunan dengan dinding tebal yang dibangun oleh Belanda.

    Di sekitar kawasan tersebut juga ditemukan bunker-bunker pendek yang diduga dibuat oleh Jepang untuk menempatkan senjata artileri penangkis serangan udara. Dengan slogan “Asia untuk Asia”, Jepang berusaha membangun dukungan dari rakyat lokal.

    Penghancuran Lapangan Terbang dan Serangan Udara

    Lapangan Terbang Talang Betutu (sekarang Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II) dan Lapangan Terbang Benteng di Plaju mengalami kerusakan parah akibat pertempuran. Menurut Majalah Angkasa, Jepang menerjunkan ratusan prajurit dari Resimen Parasut II yang dipimpin oleh Kolonel Seiichi Kume menggunakan pesawat angkut Nakajima Ki-56 “Thalia” yang dikawal oleh pesawat tempur Ki-43 Hayabusa dan pengebom Mitsubishi Ki-21 “Sally”/”Gwen”.

    Setelah penerjunan, Jepang mendaratkan 5.000 tentara di tepi Sungai Musi. Saat itu, Palembang dijaga oleh 2.000 tentara Belanda (KNIL) dan Sekutu di bawah pimpinan Letnan Kolonel L.N.W Vogelesang.

    Kronologi Pertempuran

    Pertempuran Palembang 1942 berlangsung selama Perang Dunia II, tepatnya pada 13-15 Februari 1942. Tujuan Jepang adalah menguasai kilang minyak Royal Dutch Shell di Plaju, Palembang, setelah Sekutu menerapkan embargo minyak terhadap Jepang. Akhirnya, Jepang berhasil mengalahkan Sekutu dalam pertempuran ini.

    Selama Perang Pasifik (1941-1945), kilang minyak Royal Dutch Shell di dekat Plaju menjadi incaran utama Kekaisaran Jepang. Hal ini karena embargo minyak yang diberlakukan oleh AS, Belanda, dan Inggris setelah invasi Jepang ke China dan kekejaman besar-besaran seperti Pemerkosaan Nanking.

    Dengan pasokan bahan bakar dan lapangan udara yang memadai, Palembang menawarkan potensi sebagai pangkalan militer. Oleh karena itu, Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia (ABDACOM) memutuskan untuk memusatkan Angkatan Udara Sekutu di Sumatera, yang terletak di dua lapangan terbang dekat Palembang.

    Kekuatan Sekutu yang dikumpulkan di Palembang mencapai 2.000 infanteri dan 50 pesawat tempur. Pertempuran dimulai pada 13 Februari 1942, ketika pesawat Sekutu mulai melayangkan serangan ke kapal Jepang. Di saat yang sama, Jepang menurunkan pasukan terjun payung dengan perlindungan penuh dari pesawat pengebom. Dalam waktu singkat, Jepang telah menerjunkan hampir 300 pasukan terjun payung di sekitar lapangan udara dan kilang minyak yang diduduki Sekutu.

    Kilang minyak Plaju pun dapat direbut Jepang tanpa ada kerusakan. Namun, serangan dari Sekutu, yang berusaha mendapatkan kembali kilang minyak tersebut, menimbulkan kebakaran serius. Pada hari berikutnya, Jepang semakin perkasa setelah pasukannya dari Vietnam dikerahkan ke Palembang.

    Pada 15 Februari 1942, angkatan laut Sekutu, yang terdiri dari lima kapal penjelajah dan 10 kapal perusak, di bawah Laksamana Karel Doorman berusaha menghadang Jepang, tetapi gagal. Jepang justru dapat menyerang kapal milik Sekutu hingga memaksa mereka mundur ke wilayah selatan Sumatera.

    Pada sore hari 15 Februari 1942, semua pesawat Sekutu diperintahkan ke Jawa, di mana serangan besar Jepang dinantikan. Sekutu pun telah ditarik dari Sumatera bagian selatan pada 16 Februari 1942 malam. Sementara anggota lainnya dievakuasi lewat Bandar Lampung menggunakan kapal ke Jawa atau India.

    Pertempuran Palembang 1942 pun dimenangkan oleh Jepang. Kemenangan itu tentu mempermudah langkah Jepang untuk menguasai Jawa.

  • Israel Akui Kehilangan, Pejuang Hamas Menembus Pos Militer Zionis Melalui Terowongan

    Israel Akui Kehilangan, Pejuang Hamas Menembus Pos Militer Zionis Melalui Terowongan

    Kegagalan Pengawasan di Kamp Militer Israel

    Pada hari Kamis (21/8), pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui adanya kegagalan dalam antisipasi ketika kelompok Hamas berhasil menyusup ke kamp tentara di Khan Younis, Gaza Selatan. Insiden ini terjadi pada hari Rabu (20/8), saat pejuang Hamas masuk ke bangunan yang ditempati oleh tentara Israel. Meski begitu, pasukan Israel melawan dan berhasil melumpuhkan beberapa anggota Hamas.

    Berdasarkan hasil investigasi awal IDF, para pejuang Hamas muncul dari sebuah terowongan yang berjarak 40-50 meter dari pos militer. Pos tersebut dihuni oleh pasukan Brigade Infanteri Kfir dan Batalion 74 dari Brigade Lapis Baja ke-188. Meskipun terowongan tersebut sudah diketahui sebelumnya dan sebagian poros utamanya telah dihancurkan, para pejuang Hamas diduga menggali poros baru dari jalur bawah tanah yang ada untuk melancarkan serangan.

    Kelompok Hamas terbagi menjadi tiga tim. Tim pertama melakukan tembakan penekan dari gundukan tanah, tim kedua masuk ke bangunan kosong di dalam kamp, dan tim ketiga menyerang bangunan yang ditempati satu peleton tentara. Komandan peleton dan seorang prajurit sempat keluar setelah mendengar suara mencurigakan, namun langsung ditembaki. Komandan tersebut kembali masuk, membangunkan prajurit lain yang sedang tidur, lalu bersiap di posisi bertahan.

    Dua anggota Hamas berhasil menembus gedung yang ditempati tentara. Mereka melemparkan granat dan menembaki tentara Israel, sementara tentara Israel membalas. Baku tembak berlangsung sekitar lima menit. Salah satu anggota Hamas gugur di dalam gedung, sementara rekannya melarikan diri dan dilumpuhkan. Pertempuran juga berlangsung di sekitar gedung melawan kelompok Hamas lainnya.

    Menurut laporan IDF, tiga tentara Israel terluka dalam insiden ini — satu luka serius dan dua lainnya luka ringan. Kondisi tentara yang terluka parah disebut sudah membaik. Selain itu, tank Batalion 74 menembaki gedung kosong yang sempat dimasuki Hamas setelah terlihat tembakan RPG. Dua pejuang Hamas dilaporkan gugur. Tank lainnya melindas seorang militan yang bersiap menembakkan RPG, sementara beberapa lainnya tewas dalam baku tembak di sekitar lokasi.

    IDF menyebut pertempuran di dalam kamp berlangsung sekitar 10 menit sebelum para anggota Hamas mencoba melarikan diri ke terowongan. Drone dan helikopter tempur Israel juga ikut menyerang para pelaku saat melarikan diri. Menurut laporan media Israel, total delapan anggota Hamas dilaporkan gugur di dalam dan sekitar kamp. Sementara tujuh lainnya yang menembakkan mortir syahid di pinggiran area akibat serangan udara. Sekitar delapan orang berhasil kabur kembali ke terowongan.

    Tentara Israel menemukan senjata lengkap berupa senapan serbu, RPG, granat, serta alat peledak. Mereka juga menemukan tandu yang ditinggalkan di gedung kosong, diduga untuk menculik tentara yang terluka.

    Meski berhasil memukul mundur serangan, IDF menegaskan bahwa insiden ini tetap merupakan kegagalan karena Hamas bisa menyusup tanpa terdeteksi. Sebelumnya, tentara Israel sudah menyiapkan penyergapan di area itu setelah mendeteksi pergerakan mencurigakan, namun tidak efektif.

    Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, bertanggung jawab atas serangan itu. Mereka menyebut berhasil menyerang tank Israel dengan bahan peledak dan RPG, serta menembaki bangunan yang ditempati tentara Israel. Hamas juga menyebut ada aksi penembakan jarak dekat hingga serangan bom bunuh diri yang menewaskan tentara Israel.

    Insiden ini disebut sebagai salah satu upaya langka dari Hamas dengan jumlah besar yang berani menyerang pos tentara Israel secara langsung. Bulan lalu, sekitar 12 anggota Hamas juga mencoba menyerang jalur logistik IDF di Khan Younis. Serangan terbaru tersebut terjadi saat IDF tengah bersiap melakukan ofensif besar-besaran di Kota Gaza.

  • Thailand dan Kamboja Berperang, Tapi di Dunia Maya

    Thailand dan Kamboja Berperang, Tapi di Dunia Maya

    Perang Informasi di Dunia Maya antara Thailand dan Kamboja

    Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata sekitar tiga minggu lalu. Namun, konflik tidak berhenti di medan perang nyata. Kedua negara masih terlibat dalam perang informasi di dunia maya demi memperoleh simpati internasional dan dukungan dari rakyat mereka sendiri.

    Sejak serangan roket yang dilakukan oleh Kamboja pada 24 Juli lalu, yang kemudian dibalas dengan serangan udara oleh Thailand, pasukan media sosial Kamboja serta saluran media berbahasa Inggris yang dikontrol pemerintahnya mulai menyebarkan tuduhan dan hasutan yang sering kali tidak sesuai fakta. Taktik ini berhasil karena masyarakat Thailand yang memiliki ketidakpercayaan terhadap pemerintahnya mudah terpecah. Selain itu, dunia internasional belum secara jelas mendukung Thailand.

    Akibatnya, sengketa perbatasan yang sudah berlangsung selama seabad ini semakin memanas melalui strategi yang berbeda-beda. Adu informasi di media sosial menjadi salah satu bentuk perang ini. Dengan memanfaatkan teknologi, Kamboja tampak piawai dalam mengolah informasi, meskipun sebagian besar informasi yang disebarkan adalah misinformasi atau disinformasi.

    Contohnya, Kamboja melaporkan bahwa pesawat tempur F16 Thailand telah ditembak jatuh dengan mengunggah gambar sebuah pesawat yang terbakar jatuh dari langit. Faktanya, foto tersebut berasal dari Ukraina yang sedang berperang dengan Rusia. Tuduhan lain yang tidak berdasar adalah Thailand disebut telah menjatuhkan gas beracun disertai gambar pesawat pengebom air yang menjatuhkan bahan pemadam kebakaran berwarna merah muda. Gambar itu sebenarnya menunjukkan situasi kebakaran hutan di California beberapa waktu lalu.

    Upaya Thailand dalam merespons dengan pernyataan resmi tidak mampu mengimbangi karena data yang minim. Bahkan sumber resmi seperti militer, pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Luar Negeri terlihat tidak berkoordinasi sehingga informasi yang muncul justru simpang siur.

    Bangkok juga gagal menyampaikan argumennya bahwa Kamboja bertanggung jawab atas eskalasi konflik dengan Thailand setelah menyerang pertama kali menggunakan roket sehingga menewaskan beberapa warga sipil Thailand.

    Hubungan Pemerintah dan Militer yang Tidak Harmonis

    Kondisi ini merupakan dampak dari hubungan pemerintah dan militer Thailand yang tidak harmonis. Pemerintah Thailand yang didominasi Partai Pheu Thai pimpinan miliarder Thaksin Shinawatra berseberangan dengan militer Thailand. Situasi ini makin buruk pada Juni lalu ketika mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, membocorkan percakapan telepon pribadi yang dilakukannya dengan putri Thaksin yaitu Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra.

    Paetongtarn memohon kepada Hun Sen untuk membantu menyelesaikan problem di perbatasan dan mengeluh jenderal tentara Thailand yang memimpin pasukan di sana menentangnya. Jenderal yang dimaksud adalah Letnan Jenderal Boonsin Padklang, komandan Angkatan Darat ke-2 yang kini cukup populer di Thailand dan punya banyak penggemar karena nasionalismenya yang tinggi walau bertentangan dengan pemerintah.

    Bocornya percakapan itu menyebabkan kegemparan politik di Thailand. Hal ini kemudian mendorong Mahkamah Konstitusi memberhentikan Paetongtarn yang kemudian sangat melemahkan pemerintah ketika krisis perbatasan bereskalasi.

    Strategi Politik dan Pengaruh Hun Sen

    Sementara itu, Hun Sen berada di atas angin. Secara teknis, ia telah menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Hun Manet. Namun, pengaruhnya setelah berkuasa hampir 40 tahun masih kuat. Tentara, partai yang berkuasa, dan media masih berada di bawah kendalinya.

    Sejak awal, Hun Sen rutin mengunggah foto-foto dirinya mengenakan seragam, tentara atau sedang meneliti peta militer dengan keterangan bernada mengejek Thailand dalam bahasa Khmer dan Inggris di halaman Facebook-nya.

    “Persepsinya Kamboja tampil lebih gesit, lebih tegas, dan lebih mengerti media. Sedangkan, Thailand selalu selangkah di belakang,” kata Clare Patchimanon, dalam siniar Lembaga Penyiaran Publik Thailand, Media Pulse.

    Sengketa Perbatasan yang Berlangsung Lama

    Sejak kapan sengketa perbatasan berlangsung? Thailand selalu berkeras sengketa perbatasannya dengan Kamboja harus diselesaikan secara bilateral, tanpa campur tangan pihak luar. Salah satunya dengan menggunakan Komisi Perbatasan Bersama yang dibentuk kedua negara sejak 25 tahun lalu. Namun, Kamboja ingin sengketa tersebut dibawa ke tingkat internasional.

    Kamboja adalah negara pertama yang mengajukan konflik perbatasan ini ke Dewan Keamanan PBB bulan lalu. Kamboja juga telah meminta Mahkamah Internasional untuk memutuskan letak perbatasan tersebut. Hal ini menciptakan dilema pada Thailand.

    Sebab, Thailand tidak mengakui yurisdiksi Mahkamah Internasional seperti banyak negara lain. Selain itu, ada ingatan kolektif Thailand mengenai kekalahan dan penghinaan di Mahkamah Internasional berkaitan sengketa perbatasan.

    Baik Thailand maupun Kamboja telah merekam kenangan pahit tentang kehilangan wilayah. Di pihak Kamboja, kenangan itu mengenai Kerajaan Khmer yang dulunya kuat tapi menjadi miskin karena perang dan revolusi akibat ambisi kerajaan-kerajaan tetangganya yang lebih besar.

    Di pihak Thailand, kenangan pahit tersebut adalah ketika kerajaan itu dipaksa mengorbankan wilayah pada awal abad ke-20 untuk mencegah kekuasaan kolonial Prancis atau Inggris. Saat Thailand menyetujui perbatasan baru dengan Kamboja yang diduduki Prancis, mereka mengizinkan pembuat peta dari Prancis untuk menggambar peta.

    Namun ketika Kamboja menjadi negara merdeka pada 1953, pasukan Thailand menduduki kuil Khmer yang disebut Preah Vihear atau Khao Phra Viharn dalam bahasa Thailand. Lokasi kuil berada di puncak tebing yang menjadi penanda perbatasan.

    Pihak Thailand berargumen bahwa kartografer Prancis telah melakukan kesalahan dengan memindahkan perbatasan dari daerah aliran sungai sebagai garis pemisah yang telah disepakati dan menempatkan kuil tersebut di Kamboja. Mahkamah Internasional memutuskan bahwa terlepas dari kekurangan peta tersebut, Thailand gagal membuktikan wilayah itu adalah milik mereka 50 tahun sebelumnya.

    Penguasa militer Thailand saat itu terkejut dengan hasil keputusan tersebut dan ingin menyerang Kamboja, Namun, para diplomat Thailand membujuknya untuk menerima putusan tersebut dengan berat hati.

    Ranjau Darat sebagai Senjata Informasi

    Ranau darat menjadi senjata informasi yang digunakan Thailand untuk melawan narasi Kamboja. Kedua negara adalah penandatangan Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan ranjau anti-personel. Kamboja memiliki warisan traumatis sebagai salah satu negara yang paling banyak menggunakan ranjau darat di dunia. Jadi, tuduhan Thailand bahwa tentara Kamboja memasang ranjau anti-personel baru di sepanjang perbatasan, yang menyebabkan banyak tentara Thailand terluka, merupakan tuduhan yang janggal bagi pemerintah Kamboja.

    Awalnya, Kamboja menepis tuduhan tersebut, dengan mengatakan ranjau-ranjau itu adalah ranjau-ranjau tua yang tersisa dari perang saudara pada 1980-an. Pemerintah Thailand kemudian membawa sekelompok diplomat dan wartawan ke perbatasan untuk menunjukkan apa yang mereka temukan.

    Di atas sebuah meja di hutan, hanya beberapa ratus meter dari perbatasan, terdapat kumpulan amunisi yang menurut tim penjinak ranjau Thailand ditemukan dari area yang sebelumnya diduduki oleh pasukan Kamboja. Di antara amunisi-amunisi itu terdapat lusinan cakram plastik tebal berwarna hijau dengan diameter sebesar piring. Salah satunya adalah ranjau PMN-2 buatan Rusia yang mengandung sejumlah besar bahan peledak dan cukup untuk menyebabkan kerusakan anggota tubuh yang parah. Beberapa di antaranya terlihat masih baru dan belum pernah diletakkan.

    Hal ini mendorong Kamboja untuk menepis klaim Thailand sebagai tudingan yang tidak berdasar. Namun, BBC diperlihatkan ranjau-ranjau lain yang telah dipersenjatai dan dikubur baru-baru ini, bukan pada 1980-an.

    Atas hal ini, Thailand menyerukan tindakan terhadap Kamboja kepada para penandatangan Konvensi Ottawa lainnya. Thailand meminta negara-negara yang mendukung program-program penghapusan ranjau di Kamboja untuk berhenti mendanai program-program tersebut.

    Thailand berargumen bahwa penolakan Kamboja mengakui adanya ranjau darat atau penolakan menyetujui rencana penghapusan ranjau darat menunjukkan kurangnya itikad baik dalam menyelesaikan sengketa perbatasan.

    Pertikaian Dua Dinasti Politik

    Kamboja tak mau kalah. Mereka membalas dengan menuduh Thailand menggunakan amunisi tandan dan peluru fosfor putih. Meski tidak dilarang tapi dapat menimbulkan ancaman bagi non-kombatan; militer Thailand telah mengakui menggunakan amunisi tersebut tapi hanya untuk melawan sasaran militer.

    Kamboja juga telah mempublikasikan foto-foto yang menunjukkan kerusakan kuil Preah Vihear, sebuah Situs Warisan Dunia, akibat penembakan Thailand—hal yang dibantah oleh militer Thailand.

    Tuduhan yang tak henti-hentinya dari kedua negara membuat upaya damai atas sengketa perbatasan mereka tidak mungkin terjadi. Hun Sen dan putranya telah diuntungkan secara politis karena dapat menggambarkan diri mereka sebagai pembela tanah Kamboja, tetapi konflik ini telah membuat tantangan politik yang dihadapi oleh pemerintah Thailand menjadi lebih buruk.

    Konflik ini telah memicu permusuhan yang intens antara kubu nasionalis Thailand dan Kamboja. Ratusan ribu pekerja migran Kamboja telah meninggalkan Thailand, yang akan memukul perekonomian Kamboja yang sudah mengalami kesulitan.

    “Kedua belah pihak menggambarkan perbatasan sebagai garis pemisah yang sakral di antara negara mereka,” kata Strangio. “Simbolisme ini sangat penting. Hal ini menyangkut pertanyaan yang sangat dalam tentang identitas nasional, dan ini adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh kedua belah pihak saat ini.”