Tag: senjata dan perang

  • Menteri Pertahanan Iran Umumkan Rudal Baru untuk Perang Mendatang Lawan Israel

    Menteri Pertahanan Iran Umumkan Rudal Baru untuk Perang Mendatang Lawan Israel

    Pengembangan Rudal Baru Iran dan Persiapan Militer untuk Konflik Berikutnya

    Menteri Pertahanan Iran, Brigadier General Aziz Nasirzadeh, mengungkapkan bahwa negaranya telah berhasil mengembangkan rudal generasi baru yang memiliki kemampuan jauh lebih baik dibandingkan rudal-rudal yang digunakan selama perang 12 hari melawan Israel. Menurutnya, rudal-rudal ini siap digunakan jika terjadi konflik kembali.

    Nasirzadeh menyatakan bahwa rudal yang digunakan dalam perang sebelumnya adalah produk dari beberapa tahun lalu. Namun, kini Iran memiliki teknologi yang jauh lebih canggih. “Jika musuh Zionis melancarkan serangan lagi, kami pasti akan menggunakan rudal-rudal ini,” katanya kepada media di Teheran.

    Selain menghadapi Israel, militer Iran juga berhadapan dengan dukungan logistik dan intelijen dari Amerika Serikat. Nasirzadeh menekankan bahwa Iran bergantung sepenuhnya pada sistem persenjataan yang diproduksi sendiri. “Dunia melihat bahwa rudal-rudal kami mampu menghantam target dan memberikan dampak besar pada musuh Zionis,” ujarnya.

    Media Israel diketahui melakukan penyensoran terhadap video-video serangan rudal Iran. Namun, informasi tentang kekuatan Angkatan Bersenjata Iran secara bertahap mulai muncul. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran semakin percaya diri dalam kemampuan militer mereka.

    Kekuatan Rudal Iran dan Kegagalan Sistem Pertahanan Israel

    Serangan rudal Iran pada bulan Juni 2025 menghancurkan bangunan-bangunan di Beersheba, Israel. Empat warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Tentara Israel dan tim penyelamat mencari korban di tengah reruntuhan.

    Menurut Nasirzadeh, sistem pertahanan Israel seperti THAAD dan Patriot tidak mampu menangkal rudal balistik dan hipersonik Iran. Ia menjelaskan bahwa sekitar 40 persen rudal Iran terintersep pada hari-hari pertama, namun pada akhir perang, 90 persen berhasil mencapai target. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman Iran meningkat sementara kekuatan pertahanan lawan mengalami penurunan.

    Persiapan Serangan Lanjutan oleh Israel

    Pada awal Agustus, kepala militer Israel mengatakan bahwa mereka mempersiapkan serangan lanjutan ke Iran jika diperlukan. Serangan sebelumnya pada Juni 2025 disebut sebagai perang pencegahan yang berhasil. Dalam serangan itu, Israel menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran serta membunuh komandan-komandan militer serta ratusan warga sipil.

    Selama perang 12 hari, Israel membunuh lebih dari 30 pejabat militer dan 11 ilmuwan nuklir. Menurut data resmi, 1.062 warga sipil Iran ikut terbunuh, termasuk 786 personel militer dan 276 warga sipil. Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke berbagai daerah Israel, yang menewaskan 31 warga sipil dan satu prajurit. Serangan ini juga menghancurkan objek-objek vital seperti gedung bursa, rumah sakit, dan pusat penelitian universitas.

    Perspektif Khamenei dan Persiapan Militer Iran

    Yahya Rahim Safavi, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa Iran dan Israel belum dalam gencatan senjata. Oleh karena itu, Iran sedang membangun kembali militer mereka untuk menghadapi konflik berikutnya. “Kami tidak dalam gencatan senjata, kami dalam posisi berperang,” ujar Safavi.

    Ia menekankan bahwa tidak ada protokol atau perjanjian antara Iran, AS, atau Israel. Safavi memprediksi bahwa perang akan terjadi lagi, dan setelahnya, mungkin tidak akan ada lagi perang. Ia menekankan pentingnya memperkuat diplomasi, media, rudal, drone, dan strategi serangan siber.

    Kesalahan Perhitungan Israel dan Kemenangan Iran

    Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Fadavi, mengatakan bahwa Israel melakukan miskalkulasi saat perang 12 hari melawan Iran. “Zionis musuh dan Amerika Serikat masuk dalam peperangan dengan kekuatan penuh, namun menderita salah perhitungan dengan mengira mereka akan sukses padahal tidak,” kata Fadavi.

    Fadavi menambahkan bahwa rudal Iran yang melewati Irak dan menghantam titik kritis di Israel menunjukkan kemenangan Iran. Ia juga menyatakan bahwa permusuhan dari kekuatan global, khususnya AS dan sekutunya, terhadap Republik Islam Iran terus berlangsung sejak 1979.

  • Mengapa Perang Israel dan Houthi di Yaman Meledak Kembali?

    Mengapa Perang Israel dan Houthi di Yaman Meledak Kembali?

    Serangan Israel ke Sanaa: Peran Iran, Gaza, dan Jalur Laut Merah

    Pada hari Minggu (24/8), pesawat tempur Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap ibu kota Yaman, Sanaa. Menurut militer Israel (IDF), sejumlah target militer dihancurkan, termasuk kompleks yang mencakup istana presiden, dua pembangkit listrik, dan depot bahan bakar. Israel menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh kelompok Houthi untuk operasi militer, seperti memasok listrik ke pusat komando atau menyediakan bahan bakar bagi drone.

    Otoritas Houthi melaporkan sedikitnya enam orang tewas dan hampir 90 orang luka, termasuk banyak warga sipil. Gambar dan video dari Sanaa menunjukkan tangki bahan bakar yang terbakar dan rumah-rumah penduduk yang rusak. Meskipun bukan serangan pertama yang dilakukan Israel terhadap Houthi, serangan ini dianggap sebagai yang paling berat sejak konflik baru ini muncul.

    Mengapa Israel Bereaksi Sekarang?

    Pemicu serangan terjadi dua hari sebelumnya. Pada 22 Agustus, Houthi menembakkan rudal ke arah Israel yang, menurut IDF, dilengkapi dengan submunisi — kepala peledak berisi bom-bom kecil. Senjata ini dilarang secara internasional karena berpotensi menimbulkan korban sipil.

    Bagi Israel, penggunaan bom curah dianggap sebagai eskalasi kualitatif. Dengan serangan balik ini, pemerintah Israel ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertahan secara defensif, tetapi juga akan lebih agresif menyerang sumber ancaman di Yaman.

    Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas serangan rudal dan drone dari Yaman memang meningkat. Menurut analis independen asal Yaman, Hannah Porter, ini menandai fase baru dalam konflik. “Yang baru adalah Houthi tampaknya mulai memasang submunisi dalam rudal mereka. Bahkan jika rudal berhasil ditembak jatuh, pecahan atau bagian berisi bom kecil tetap bisa jatuh di Israel dan meledak saat menghantam tanah,” kata Porter dalam wawancara dengan DW. “Tujuannya jelas: menimbulkan dampak lebih besar, bahkan di sekitar Bandara Ben Gurion di Tel Aviv.”

    Sejak Kapan Houthi Menyerang Israel?

    Konfrontasi ini berawal pada musim gugur 2023. Saat itu, tak lama setelah serangan teror Hamas pada 7 Oktober, Houthi menyatakan melakukan “serangan solidaritas” terhadap Israel. Pada 19 Oktober, Angkatan Laut AS menembak jatuh rudal Houthi di atas Laut Merah yang diduga mengarah ke Israel. Pada 31 Oktober, Houthi secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menembakkan drone dan rudal ke arah Eilat.

    Sejak itu, serangan terus berulang, beberapa kali memicu sirene peringatan di Israel. Salah satu yang paling mencolok terjadi pada 19 Juli 2024, ketika sebuah drone Houthi menghantam pusat Tel Aviv dan menewaskan seorang warga sipil. Israel membalas dengan serangan udara ke target-target Houthi di Hodeida, kota pelabuhan di Laut Merah bagian barat Yaman yang sebelumnya juga kerap diserang oleh Saudi.

    Menurut Porter, serangan Houthi memiliki logika strategis. “Sejak 7 Oktober 2023, Houthi menyerang Israel secara konsisten. Ada jeda dan fluktuasi frekuensi, tapi mereka berulang kali menegaskan: tidak peduli berapa banyak serangan udara yang mereka terima, baik dari Israel maupun AS, mereka akan melanjutkan kampanye ini.”

    Kepentingan Houthi

    Houthi, yang menyebut diri sebagai Ansar Allah, sejak 2014 menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman. Mereka berperang melawan pemerintah yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Karena terisolasi secara internasional, Houthi sangat bergantung pada aliansi dengan Iran.

    Menurut temuan PBB, Teheran selama bertahun-tahun memasok senjata, teknologi rudal dan drone, serta dukungan pelatihan militer. Bagi Iran, Houthi adalah alat penting untuk menekan Arab Saudi, AS, maupun Israel.

    Sementara bagi Houthi, perang di Gaza menjadi panggung untuk menampilkan diri sebagai bagian dari “poros perlawanan”. Mereka mengemas serangan terhadap Israel sebagai bentuk solidaritas muslim dengan Palestina, yang sekaligus memperkuat dukungan internal di Yaman. Selain itu, mereka berharap aksi ini memberi sorotan internasional yang bisa menguntungkan posisi mereka dalam perundingan damai perang saudara di Yaman.

    Namun kondisi kemanusiaan di Yaman sangat mengkhawatirkan. Kelaparan, kekurangan gizi, dan malnutrisi mencapai rekor tertinggi. Lebih dari separuh penduduk, menurut PBB, bergantung pada bantuan kemanusiaan. Infrastruktur dan sistem kesehatan nyaris kolaps akibat perang berkepanjangan.

    Dampak bagi Timur Tengah

    Eskalasi ini tidak hanya menyangkut Israel dan Yaman, tetapi juga mengganggu perdagangan global. Sejak akhir 2023, Houthi secara rutin mengancam kapal dagang di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia. Banyak perusahaan pelayaran terpaksa memutar rute lewat Tanjung Harapan, Afrika Selatan, yang membuat biaya melonjak drastis.

    Untuk melindungi jalur laut, AS dan Inggris meluncurkan operasi maritim Prosperity Guardian pada Desember 2023. Sejak itu, pasukan Barat beberapa kali melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi. Serangan terbaru Israel kini menjadi bagian dari pola aksi militer internasional yang bertujuan membatasi agresi Houthi.

  • Basis Data Militer Israel Ungkap Mayoritas Korban Palestina adalah Warga Sipil

    Basis Data Militer Israel Ungkap Mayoritas Korban Palestina adalah Warga Sipil

    Data Rahasia Militer Israel Menunjukkan Mayoritas Korban di Gaza adalah Warga Sipil

    Sebuah basis data rahasia yang ditemukan oleh lembaga investigasi menunjukkan bahwa mayoritas korban tewas di Gaza adalah warga sipil. Data ini berasal dari militer Israel dan ditemukan dalam kerja sama antara The Guardian, +972 Magazine, serta media lokal berbahasa Ibrani, Local Call. Penemuan ini memberikan wawasan baru mengenai proporsi korban jiwa dalam konflik yang terjadi di wilayah tersebut.

    Dari data yang ditemukan hingga bulan Mei, tercatat sekitar 8.900 nama pejuang Palestina, termasuk dari Hamas dan PIJ, yang ditandai sebagai “meninggal” atau “kemungkinan besar meninggal”. Namun, jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina pada bulan yang sama. Mereka mencatat total hampir 53.000 korban jiwa akibat serangan Israel. Angka ini mencakup baik para pejuang maupun warga sipil, tetapi belum termasuk korban yang masih terkubur dalam reruntuhan.

    Berdasarkan perbandingan data tersebut, diperkirakan bahwa sekitar 83% dari korban tewas adalah warga sipil, sementara hanya 17% yang merupakan pejuang. Angka ini bertentangan dengan pernyataan Israel yang selama ini menyebutkan bahwa target utama serangan mereka adalah kelompok militer seperti Hamas dan PIJ. Persentase kematian warga sipil ini menjadi yang tertinggi keempat jika dibandingkan dengan angka kematian warga sipil dalam konflik kemanusiaan lainnya yang tercatat dalam Uppsala Conflict Data Program.

    Para peneliti konflik menyebutkan bahwa persentase ini bisa menjadi yang tertinggi dalam sejarah peperangan modern, karena belum ada konflik kemanusiaan terbaru yang mencapai tingkat kematian warga sipil yang setinggi ini. Hal ini memicu pertanyaan mengenai cara pengambilan keputusan dalam operasi militer Israel di Gaza.

    Respons Pihak Militer Israel

    Pihak militer Israel tidak secara langsung membantah keberadaan basis data tersebut ketika dihubungi oleh Local Call dan +972 Magazine. Namun, ketika The Guardian melakukan wawancara, mereka menyatakan akan “mengulang kembali” respons mereka. Dalam pernyataan resmi mereka, disebutkan bahwa data dalam artikel tidak benar dan angka yang disebutkan tidak merepresentasikan data yang tersedia dalam sistem IDF. Namun, pernyataan ini tidak menjawab secara spesifik tentang basis data intelijen yang dimaksud, sehingga masih menimbulkan keraguan.

    Bukan Perang, Tapi Pembunuhan yang Ditargetkan

    Direktur dari The Conflict Research Programme, Mary Kaldor, menyatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang, melainkan kampanye pembunuhan yang ditargetkan. Ia menekankan bahwa dalam konflik ini, tidak ada pertimbangan untuk melindungi warga sipil. Dalam penyerangan, tentara Israel diizinkan untuk melaporkan orang yang tewas sebagai korban militan tanpa adanya identifikasi atau verifikasi. Banyak tentara Israel sendiri mengakui bahwa semua warga Palestina kini dianggap sebagai target, tanpa membedakan apakah mereka militer atau bukan.

    Salah satu tentara yang bertugas di Rafah mengungkapkan bahwa mereka tidak menembak untuk memberi peringatan, melainkan untuk membunuh. Mereka bahkan membuat garis batas imajiner di pasir dan menembak siapa pun yang melewati garis tersebut. Hal ini memperkuat klaim bahwa operasi militer Israel di Gaza dilakukan tanpa memperhatikan keselamatan warga sipil.

    Pengakuan dari Berbagai Pihak

    Banyak peneliti genosida, aktivis HAM, akademisi, dan kelompok kampanye dari Israel menganggap apa yang terjadi di Gaza saat ini sebagai genosida. Mereka menilai bahwa serangan yang terus-menerus dilakukan oleh Israel menunjukkan niat untuk menghancurkan komunitas Palestina secara keseluruhan.

    Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina pada Juni 2025 menunjukkan bahwa jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai lebih dari 55.000 jiwa. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meluasnya serangan dari Israel.