Kekhawatiran Perang Dagang AS-India, Ini Dampaknya pada Harga Minyak

Kekhawatiran Konflik Dagang AS-India Berdampak pada Harga Minyak Mentah

Harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan kecil sebesar 0,08% menjadi US$ 63,30 per barel. Meski demikian, secara bulanan harga minyak mentah tercatat turun hingga 5%, dan secara year to date (ytd) mengalami penurunan sebesar 11,64%. Pergerakan ini menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Girta Putra Yoga, Research and Development ICDX, menjelaskan bahwa adanya sinyal konflik dagang baru antara Amerika Serikat (AS) dengan India memicu ketegangan di pasar minyak. Pasca pengumuman Presiden AS Donald Trump akan menerapkan tarif tambahan sebesar 25% terhadap produk India, total tarif yang dikenakan oleh Washington mencapai 50%. Tarif ini merupakan salah satu yang tertinggi dalam sejarah pemerintahan AS.

Keputusan ini diambil setelah lima putaran perundingan gagal mencapai kesepakatan. Dampaknya, permintaan minyak mentah dari India, sebagai konsumen terbesar ketiga dunia, diprediksi akan menurun. Hal ini memperkuat tren bearish harga minyak yang masih berlangsung.

Perubahan Rencana Ekspor Minyak Rusia

Selain itu, sentimen pasar juga diwarnai oleh revisi rencana ekspor minyak mentah Rusia. Pada bulan Agustus, produksi minyak mentah dari pelabuhan barat naik sebesar 200.000 barel per hari (bph), setelah serangan pesawat nirawak Ukraina mengganggu operasi kilang. Namun, para penjual minyak Rusia belum menerima rencana pemuatan akhir untuk bulan September karena masih ada ancaman serangan dan tenggat waktu perbaikan kilang yang terus berubah.

Laporan mingguan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan stok minyak mentah sebesar 974.000 barel dan penurunan stok bensin sebesar 2,06 juta barel. Laporan ini menunjukkan permintaan yang kuat di pasar energi AS. Namun, pelaku pasar masih menantikan laporan resmi dari EIA yang akan dirilis pada Rabu malam.

Negosiasi Dagang China-AS Memengaruhi Sentimen Pasar

Di sisi lain, pertemuan antara negosiator perdagangan senior China, Li Chenggang, dengan pejabat AS diharapkan dapat membuka jalan menuju kesepakatan di luar gencatan senjata tarif yang sedang berlangsung. Rencana pertemuan ini memberi harapan akan penyelesaian ketegangan antara dua raksasa ekonomi global tersebut.

Menurut Girta Putra Yoga, harga minyak berpotensi menemui level resistance di US$ 66 per barel. Namun, jika ada katalis negatif, harga bisa turun ke support terdekat di US$ 61 per barel.

Pengaruh Tarif Tambahan terhadap Impor India

Wahyu Laksono, pengamat komoditas dan founder Traderindo, menyoroti pemberlakukan tarif tambahan sebesar 25% terhadap impor dari India. Alasan utama dari tarif ini adalah pembelian minyak mentah Rusia oleh India. Menurut Presiden Trump, pembelian minyak Rusia oleh India secara langsung atau tidak langsung “mendanai mesin perang Rusia” dan mengancam keamanan nasional AS.

Dengan tarif tambahan ini, total tarif yang dikenakan AS pada sebagian besar impor India akan mencapai 50%. Hal ini membuat India berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan dibandingkan mitra dagang AS lainnya seperti Myanmar, Thailand, Kamboja, Bangladesh, Indonesia, Tiongkok, dan Sri Lanka.

Tarif tambahan 25% ini akan mulai berlaku 21 hari setelah penandatanganan perintah eksekutif, yaitu pada 27 Agustus 2025. Hingga akhir tahun 2025, Wahyu memproyeksikan harga minyak WTI bisa berkisar antara US$ 70 hingga US$ 75 per barel jika ada tanda-tanda pemulihan ekonomi global atau pemotongan produksi oleh OPEC+.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *