Perubahan Kepemimpinan PKS Bali dan Langkah Strategis di Masa Depan
Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bali menjadi momen penting dalam sejarah partai tersebut. Acara yang diselenggarakan di ballroom Four Star by Trans Hotel Denpasar pada Minggu, 24 Agustus 2025, menandai pengangkatan Zulrachmad Lonthor sebagai Ketua Dewan Pimpinan Tingkat Wilayah (DPTW) PKS Bali periode 2025–2030. Dengan panggilan akrab Kang Dzul, ia menyampaikan komitmen partai untuk bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan berbagai elemen masyarakat dalam upaya memajukan Bali.
Tema utama Muswil kali ini adalah “Kokoh Bersama Majukan Bali untuk Indonesia”, yang diadakan secara serentak di seluruh Indonesia melalui jaringan konferensi video oleh Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP). Seluruh anggota dan simpatisan PKS Bali turut hadir dalam acara ini secara virtual, menunjukkan komitmen partai terhadap keterlibatan kader di era digital.
Penutupan Muswil diwarnai dua bait pantun yang dibacakan oleh Zulrachmad Lonthor. Pantun tersebut mengandung makna simbolis tentang semangat bersama dan keinginan untuk maju bersama:
“Ke CFD Renon membeli Es,
Melihat kanan dan kiri indah bunga Akasia,
Dengan Muswil VI PKS
Kita majukan Bali untuk Indonesia.”
“Indah nian Bunga Kamboja,
Dilihat sambil makan Nasi Kebuli,
Mari PKS Bali terus bekerja
Wujudkan kemenangan PKS di Bali.”
Pantun ini mencerminkan strategi politik kreatif PKS yang ingin dekat dengan budaya lokal dan membangun citra partai yang lebih humanis di mata masyarakat Bali.
Sejak pertama kali ikut dalam pemilu, PKS Bali menghadapi tantangan berat. Di tingkat provinsi, partai belum pernah meraih kursi DPRD Bali. Di tingkat kabupaten/kota, PKS sempat meraih kursi di Kota Denpasar (maksimal 3 kursi periode 2014–2019) dan Jembrana (2 kursi 2014). Namun, pada Pemilu 2019 dan 2024, PKS kehilangan semua kursi tersebut, termasuk di Karangasem.
“Ini adalah suksesi kepemimpinan PKS di Bali. PKS adalah partai kader, tentunya kita melakukan kaderisasi, salah satunya melalui forum Muswil,” ujar Kang Dzul. Kondisi ini menunjukkan bahwa Pulau Dewata tetap menjadi medan politik sulit bagi partai menengah berbasis Islam.
Dengan kepemimpinan Zulrachmad Lonthor, PKS Bali berencana mengoptimalkan strategi kolaboratif. Fokusnya meliputi penguatan hubungan dengan pemerintah, tokoh adat, dan komunitas lokal, serta mobilisasi kader di tingkat banjar, kelurahan, dan DPD kabupaten/kota. Penambahan citra melalui simbol-simbol budaya, seperti pantun dan kegiatan sosial yang dekat dengan masyarakat, juga menjadi bagian dari rencana.
Acara di Four Star Hotel dihadiri oleh para pimpinan PKS Bali, antara lain Ketua PKS Bali, Sekretaris dan Bendahara, Ketua dan Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW), Ketua dan Sekretaris Dewan Syariat Wilayah (DSW), Ketua dan sekretaris Bidang Kaderisasi Anggota Partai (BKAP), seluruh Pengurus DPW, dan kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) seluruh Bali.
Tujuan akhir PKS Bali adalah menembus DPRD Bali pada Pemilu 2029, dengan Denpasar, Badung, dan Buleleng sebagai dapil prioritas. Pendekatan berbasis budaya ini diharapkan membuat PKS lebih diterima oleh masyarakat luas, terutama kalangan muda dan komunitas lokal yang peduli budaya dan lingkungan.
Agenda pelantikan dan pembacaan sumpah jabatan seluruh kader yang akan mengemban amanah sebagai pimpinan partai di tingkat Wilayah dan pimpinan partai di tingkat Kabupaten/Kota merupakan hasil dari proses demokrasi yang dilaksanakan PKS dengan melibatkan seluruh kader. Dengan langkah-langkah ini, PKS Bali berharap dapat memperkuat posisinya sebagai partai yang berkomitmen pada kemajuan Bali dan Indonesia.

Leave a Reply